Karapan sapi saat berlaga.
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Wacana karapan sapi tanpa kekerasan sepertinya sulit untuk diterapkan. Tradisi khas masyarakat Madura itu memang sudah terlanjur mendarah daging menggunakan alat semacam paku untuk mempercepat laju sapi mereka.
Hal tersebut diungkapkan Perwakilan Wilayah IV Pamekasan, Moh Muhyi. “Saya pikir sulit terlaksana, apalagi pada tingkat karapan sapi Piala Presiden atau yang dikenal dengan sebutan "Gubeng", umumnya masih menggunakan kekerasan,” ungkap Muhyi, Minggu (2/6).
BACA JUGA:
- Kunker ke Pamekasan, Mensos Gus Ipul Bakal Evaluasi Usai Dugaan 40 Persen Bansos Tak Tepat Sasaran
- Pelantikan Dekopinda Pamekasan, Bupati Sebut Gelontorkan Hampir Rp2 M untuk UMKM dan Koperasi
- Bea Cukai Madura Didesak Usut Dugaan Pabrik Rokok Bermasalah
- Kasus Kekerasan Seksual Anak Perempuan di Pamekasan Naik, Faktor Keluarga Tak Harmonis Jadi Pemicu
Menurutnya, pada lapisan bawah seperti karapan tingkat kecamatan dan kawedanan justru masih menggunakan alat untuk mempercepat lari sapi, di mana hal tersebut dinilai sebagai kekerasan terhadap binatang tersebut.
Menurutnya, karapan sapi tanpa kekerasan mustahil terwujud selama masyarakat belum memiliki kesadaran pribadi untuk melaksanakannya. Di samping itu, tanpa adanya unsur paku atau kekerasan, sapi yang dijadikan karapan juga tidak akan melaju dengan cepat.
“Masalahnya, mayoritas pemilik sapi sudah terlanjur terbiasa dengan kekerasan,” tuturnya.
Muhyi berharap karapan sapi tanpa kekerasan bisa terlaksana di piala presiden yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 mendatang. "Dengan kesadaran para pemilik sapi, saya optimis kerapan sapi tanpa kekerasan bisa terlaksana," pungkasnya. (err/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




