Tafsir Al-Isra 1: Haram Bagi Muslim Wisata ke Borobudur

Tafsir Al-Isra 1: Haram Bagi Muslim Wisata ke Borobudur Stupa di Candi Borobudur. foto: Kisah Asal Usul

Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .

Subhaana alladzii asraa bi’abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii’u albashiiru (1).

Seperti dipaparkan sebelumnya, bahwa salah satu petikan hikmah dari peristiwa al-isra dan al-mi'raj adalah memperjalankan Nabi Muhammad SAW berwisata dan menghibur diri, menimba pengetahuan, dan memperkuat iman. Al-Masjid al-Aqsha Palestina ditunjuk sebagai satu-satunya destinasi wisata bumi, karena banyak pelajaran yang bisa diambil di sana. Maklum, Palestina adalah negeri para nabi terdahulu.

Yang jelas, masjid adalah tempat ibadah bagi umat islam, sehingga nyata sekali ajaran yang dikedepankan, yaitu: "Wisata yang baik adalah wisata yang bernilai ibadah, bermaslahah, dan bermanfaat menurut agama". Wisata yang memburu kesenangan, menghibur diri dari kekalutan, membuat jiwa lebih fresh, asal tidak bermaksiat tetap dibolehkan. Tentu saja nilai pahalanya berbeda. 

Menikmati pemandangan alam yang menakjubkan, kemudian direnungkan dengan tadabbur mendalam, apalagi menghasilkan ilmu atau menambah mantapnya keimanan kepada Sang Khaliq, maka itu wisata produktif dan berpahala. Imam al-Syafi'i sering bertadabbur dari alam yang dilihatnya, lalu bermunajah.

Wisata maksiat, seperti berduaan dengan wanita bukan mahram, tidur satu kamar, tentu saja dilarang. Wisata maksiat dengan biaya besar,tentu lebih berdosa. Selain dosa kemaksiatannya, dosa pula memubadzirkan uang. Bagimana dengan wisata ke situs budaya yang ternyata berefek mendukung kemusyrikan, seperti wisata ke candi Borobudur?

Beberapa hal, perlu dipahamai sebelumnya, antara lain: Pertama, candi Borobudur adalah tempat suci bagi umat budha. Panganut budha melakukan peribadatan di candi tersebut dengan memuja patung-patung sesembahan di sana.

Kedua, jika sesembahan itu mengarah kepada meyakini ada Tuhan selain Allah SWT, maka itu perbuatan syirik, menyekutukan Tuhan, dosa besar.

Ketiga, al-Qur'an menuturkan betapa nabi Ibrahim A.S. dihukum mati dengan cara dibakar, gara-gara dia menghancurkan patung-patung sesembahan raja Namrud dan rakyatnya. Tapi Tuhan menyelamatkan. Kemudian ditiru oleh nabi Muhammad SAW. Ketika berhasil menaklukkan kota Makkah, langkah pertama adalah membersihkan patung-patung sesembahan yang ada di sekitar Ka'bah.

Simak berita selengkapnya ...