Said (tiga dari kiri) bersama teman-teman santri lainnya sedang mengikuti acara rutin Shalawat Burdah yang digelar setiap malam Jumat di Masjid At Taqwa. foto: istimewa
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Meski mayoritas santrinya adalah mahasiswa, Ponpes Bureng juga tidak menutup pintunya bagi mereka-mereka yang pernah atau sedang menjalani masa rehabilitasi narkoba serta sejenisnya. Mereka juga diajak mengaji tasawuf, hikmah serta ketauhidan.
“Targetnya tidak muluk-muluk, yang penting mereka bisa membaca serta memahai kitab lalu diamalkan,” tandas Abah Hamid, sapaan akrab KH Mas Abdul Hamid Sya’roni.
BACA JUGA:
- Zakat Rp16 M Yayasan Cheng Hoo Mengalir ke 32 Ribu Warga, Ning Lia: Potensi Besar Modal Usaha
- Pemkot Surabaya Intensifkan Sidak Pasar, Pastikan Harga Terkendali dan Stok Aman Jelang Ramadhan
- Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadan, Wartawan Grahadi Ajak Anak Yatim Ngabuburit Lihat Satwa di KBS
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Khofifah, Prof Kiai Imam Ghazali Berharap seperti Al-Azhar Mesir
Selain narkoba serta anak-anak nakal, Ponpes Bureng juga mau membantu anak-anak yang kejiwaannya terganggu. “Ada satu santri yang dirujuk teman-teman dari Rumah Sakit Menur. Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh dan masih mengaji di sini (Ponpes Bureng),” tuturnya.
Dalam membimbing santrinya, Hamid juga menekankan pentingnya peranan orang tua sebagai syarat utama keberhasilan para santri menuntut ilmu. Hal ini ia buktikan saat awal penerimaan seseorang menjadi santrinya. Meskipun sekolahnya sudah tingkat S2 pun, harus ada orang tua yang menemani calon santri mendaftar.
“Dengan ikutnya para orang tua calon santri saat mendaftar, berarti mereka sudah memasrahkan anaknya untuk dididik di Bureng ini. Supaya ada doa (takdzim) serta ada keterlibatan mereka,” tutur ayah tiga anak ini.
Sebut saja Muhammad Said Wafi, lelaki kelahiran Gresik 21 tahun lalu ini adalah salah satu dari 60 santri yang mukim (mondok) di pesantren Bureng. Said, sapaan akrab Muhammad Said Wafi memiliki alasan tersendiri mau mendalami ilmu agama di Ponpes Bureng.
“Awalnya memutuskan untuk mondok di Bureng ini karena orang tua menginginkan saya untuk mondok lagi di samping kuliah,” jelas alumni Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang ini.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




