Kapolsek Candi, Kompol Kusminto.
Yang jelas, Amir baru menghentikan truk di exit tol Porong. Dia lantas melaporkan peristiwa yang baru saja dialami ke petugas Jasa Marga. “Tidak ada barang di atas truk yang hilang. Kerugian hanya kaca bagian depan yang pecah karena lemparan batu,” paparnya.
Dari informasi itu, polisi kembali melakukan penyusuran ke lokasi. Dan, petugas menemukan seorang pria di jembatan lokasi kejadian. Sama dengan Bambang, dia juga terindikasi punya gangguan kejiwaan. Waktu ditanya polisi, omongannya ngelantur seperti orang tidak waras. Namanya Eko Saputro, 24 tahun, warga Ngampal, Sragen.
Berdasarkan pantauan di Mapolsek Candi, Bambang dan Eko memang menunjukkan sikap yang tidak biasa. Saat diajak komunikasi, keduanya jarang tanggap. Selain itu, pandangan matanya juga tampak kosong. Bahkan, Eko sempat menjawab bekerja sebagai tentara dengan pangkat pratu (prajurit satu) saat ditanyai pekerjaan.
Sebelum insiden lempar batu kembali muncul di Candi, aksi teror serupa juga sempat terjadi di wilayah hukum Sidoarjo Kota. Kamis malam (18/8), seorang pengendara motor dilempari batu saat melintas di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo. Korbannya adalah anggota KPU Sidoarjo Nanang Haromin.
Sekitar pukul 23.00, pria 41 tahun itu melintas dari arah selatan. Dari kejauhan, warga Pucanganom, Sidoarjo tersebut melihat seorang pria mencari sampah di pinggir jalan. “Waktu posisi sudah dekat, pria itu tiba-tiba melemparkan batu ke arah saya,” kata Nanang.
Nanang menuturkan, dia beruntung masih bisa menghindar. Batu yang dilempar, lanjutnya, hanya mengenai motor. “Saya langsung melapor ke polsek,” ucapnya.
Kapolsek Sidoarjo Kota Kompol Naufil Hartono menyatakan, pihaknya langsung mendatangi lokasi bersama korban. Dan, langsung meringkus pelaku penyerangan. “Pelaku sempat berontak saat akan ditangkap. Dia bawa pisau di tangan kiri,” ujar Naufil.
Mantan Kapolsek Wonocolo, Surabaya, itu melanjutkan, tujuh personel yang datang kemudian berbagi tugas. Ada yang bertugas mengalihkan perhatian dan menangkap pelaku. “Warga juga ikut membantu menangkap. Setelah tangannya kami ikat langsung dibawa ke kantor,” tandasnya.
Waktu penyidikan, diketahui pelaku adalah orang gila. Kepada polisi, dia mengaku bernama Taslan. Kelahiran 1938 dan berasal dari Karangbinangun, Lamongan. “Orang tidak waras. Masa di kantor ngaku sebagai Dandim (Komandan Kodim) 0830. Makanya, dia langsung kami serahkan ke liponsos,” pungkasnya. (cat/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




