Senin, 24 Februari 2020 06:22

KH Hasyim Muzadi: Dunia Islam Pecah Akibat Syiah-Wahabi, Aswaja Bukan untuk Nyerang

Kamis, 28 Juli 2016 19:52 WIB
KH Hasyim Muzadi: Dunia Islam Pecah Akibat Syiah-Wahabi, Aswaja Bukan untuk Nyerang
KHA Hasyim Muzadi bersama para mufti, ulama dan intelektual muslim dari berbagai negara negara dalam Konferensi Internasional yang digelar Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) bekerjasama dengan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Pekalongan, Jateng 27-28 Juli 2016. foto: dok. bangsaonline.com

PEKALONGAN, BANGSAONLINE.com - KH Ahmad Hasyim Muzadi, pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang Jawa Timur dan Depok Jawa Barat, menegaskan bahwa dunia Islam sekarang terbelah menjadi dua kekuatan. Yaitu kekuatan Syiah yang dipimpin oleh Iran dan kekuatan Wahabiyah Salafiyah yang dipimpin oleh Arab Saudi. Mereka saling berebut pengaruh sehingga menimbulkan konflik bahkan perang di luar areal kedua negara tersebut.

”Posisi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di dunia yang sesungguhnya mayoritas dalam jumlah berubah menjadi ajang perebutan pengaruh baik ideologi, politik, maupun financial,” kata Kiai Hasyim Muzadi dalam Konferensi Internasional yang digelar Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia dan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Pekalongan, Jateng 27-28 Juli 2016. Konferensi Internasional yang dihadiri para ulama, mufti dan intelektual muslim dari 40 negara ini bertema Bela Negara, Konsep dan Urgensinya dalam Islam.

Menurut Kiai Hasyim, Aswaja seakan menjadi ring pertikaian dari permusuhan Syiah dan Wahabi. Padahal Aswaja adalah konsep agama yang secara ilmiah dan amaliyah melalui jalur wasatiyah dan tidak menyiapkan diri untuk menyerang siapapun yang mempunyai manhaj lain.

“Sehingga ketika terjadi himpitan-himpitan dari kekuatan agresif ini kaum suni jadi kedodoran,” tegas Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) dan mantan ketua umum PBNU itu.

Pertarungan dari dua kubu besar tersebut – menurut Kiai Hasyim Muzadi - dalam kenyataan prosesnya selalu dimanfaatkan oleh kepentingan global yang mengambil keuntungan dalam mengaduk-aduk kondisi umat Islam. Sehingga terjadilah pertikaian bahkan peperangan.

”Pertikaian yang asalnya firqoh diniyah berkembang menjadi pertikaian politik dan ekonomi global yang semakin sulit diselesaikan,” kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu.

Kenyataan ini – tegas dia - sangat memprihatinkan. Ia mensinyalir bawha konflik adu domba ini bisa jadi masuk ke Indonesia akibat dua faktor besar.

”Pertama, Indonesia sebagai negara Muslim Sunni terbesar di dunia dapat diperhitungkan sebagai lahan sasaran. Kedua, faktor sumber daya alam Indonesia yang terkaya dan terbesar di dunia,” katanya.

Menurut dia, tanda-tanda konflik di dalam Islam sudah mulai terasa dilanjutkan dengan konflik lintas agama yang akhirnya menjadi konflik agama dan negara.

”Reformasi Indonesia sejak amandemen UUD 1945 tahun 2002 memudahkan masuknya anasir-anasir konflik tersebut karena keterbukaan Indonesia yang sangat luas baik menyangkut ideologi, agama, politik, hukum, pendidikan dan budaya. Oleh karenanya kasus-kasus konflik tersebut menyangkut juga konflik kawasan seperti rawannya situasi keamanan Papua dan di lingkar perbatasan Indonesia,” tegas Kiai Hasyim Muzadi.

Untuk menanggulangi masalah-masalah berat tersebut, menurut Kiai Hasyim Muzadi, haruslah dengan penguatan Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah, tata organisasi NU, dan peranan NU pada tingkat nasional dan internasional. Sayangnya, di kalangan umat nahdliyin sendiri sudah mulai digerogoti oleh ideologi lain dan menurunnya peranan NU.

Karena itu ia berharap jangan sampai NU dilemahkan lewat penyusupan ideologi lain yang sedang bertikai di dunia tersebut serta parpolisasi NU yang akan memperkecil peranan NU itu sendiri.

Selainitu, kata Kiai Hasyim Muzadi, penanggulangan penyakit-penyakit bangsa seperti narkoba, terorisme, LGBT, korupsi, dan neokomunisme, harus benar-benar diperhatikan. Sebab kalau tidak berhasil ditanggulangi maka akan runtuhlah nasionalisme Indonesia dan bahkan berganti penguasaan asing terhadap Indonesia. Ironisnya, dalam kondisi tantangan yang semakin berat, NU justeru menjadi semakin lemah. (ma)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 21 Februari 2020 20:10 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Tuban mempunyai wisata edukasi baru berupa Taman Kelinci. Suasana Taman Kelinci yang terletak di tepi jalan Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban ini begitu adem, asri, dan sejuk, karena jauh dar...
Senin, 17 Februari 2020 20:01 WIB
Oleh: M Mas’ud AdnanGus Sholah. Panggilan yang enak didengar. Sekaligus menyejukkan. Siapa pun yang pernah bertemu, berbincang – apalagi akrab. Pasti terkesan: santun, tawaddlu’, sederhana, egaliter dan moderat. Moderat sesungguhnya. Bukan ...
Kamis, 20 Februari 2020 11:01 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*81. Waqul jaa-a alhaqqu wazahaqa albaathilu inna albaathila kaana zahuuqanDan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.TAFSIR AKTUALAyat kaji 80 ...
Rabu, 29 Januari 2020 10:58 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...