Mahasiswa Binus Kembangkan Kursi Roda Sinyal Otak, Pesanan Mulai Mengalir

Mahasiswa Binus Kembangkan Kursi Roda Sinyal Otak, Pesanan Mulai Mengalir CANGGIH: Ivan Halim saat memperagakan kursi roda temuannya. foto: detik.com

Yang lama adalah kami mencari cara bagaimana membuat aplikasi ini mudah digunakan untuk pengguna," tutur Jennifer.

Karya mereka meraih juara 2 dalam lomba Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) 2015 kategori sistem cerdas. Riset ini juga mengantarkan dosen pembimbing skripsi mereka, Dr Widodo Budiharto, SSi, MKom masuk 15 besar Dosen Berprestasi Nasional. Penelitian ini dibiayai oleh Toray Science and Technology Research Grant dari Jepang.

Kendati kursi roda dengan kendali otak masih disempurnakan. Namun, kursi roda ini sudah ada yang pesan."Sudah ada yang minta dibuatkan dan kondisinya ideal dengan kursi roda ini, tapi belum bisa karena ini masih disempurnakan," tutur Jennifer Santoso.

Jennifer meneliti kursi roda berbasis kendali otak ini bersama Ivan Halim Parmonangan, untuk proyek skripsi mereka.

Sedangkan dosen pembimbing skripsi mereka, Dr Widodo Budiharto, SSi, MKom menjelaskan bahwa kursi roda yang diteliti bersama anak didiknya ini memiliki beberapa keunggulan, yakni bisa mengoptimalkan hanya 2 saluran dari 14 saluran di neuroheadset yang menangkap sinyal otak dari beberapa bagian otak. Kedua, dari segi kebaruan, maka riset kursi roda berbasis kendali otak ini paling baru.

"Kursi roda ini sudah sangat baik karena sudah sangat cepat dalam pengklasifikasiannya (sinyal otak-red). Karena hanya menggunakan 2 channel dari 14 channel yang digunakan," tutur Widodo ditemui di tempat yang sama.

Namun ke depan, penyempurnaan akan dilakukan untuk memperbaiki beberapa kelemahan. Pertama, akan diperbaiki dari sisi kontroler seefisien mungkin.

"Sistem catu dayanya agar mampu mensuplai tegangan ke kursi roda selama mungkin. Kemudian mengoptimalkan filtering sistem yang ada karena mau tidak mau kita masih berhadapan dengan noise yang muncul dari sistem tubuh manusia yang mengganggu pembacaan sensor EEG tersebut," paparnya.

Noise atau keberisikan ini timbul karena banyak sinyal-sinyal tubuh berupa tegangan-tegangan listrik dengan orde yang sangat rendah. Nah, tidak semua sinyal itu dibutuhkan. Bila sinyal yang tak dibutuhkan ini besaranya cukup signifikan, dinamakan sinyal pengganggu. Hal ini berakibat pembacaan data EEG yang kacau.

"Tantangannya adalah 'membuang' sinyal-sinyal yang tidak dibutuhkan," jelas Widodo.

Penyempurnaan kursi roda ini juga melibatkan diskusi dengan pihak-pihak kedokteran yang lebih menguasai sisi medisnya, dalam hal ini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Widodo juga mengungkapkan rencana produksi dari hasil riset ini melalui fasilitator Binus Create.

"Kita lakukan penelitian dengan fokus dan terus menerus dengan target komersialisasi. Karena itulah yang dibutuhkan Indonesia, yakni kemandirian bangsa," pungkasnya. (dtc/sta)

Sumber: detik.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO