Saut Situmorang. Foto: liputan6.com
"Kalau yang dianggap keras-keras kayaknya nggak akan dipilih. Kita anggap memang pilihannya bukan yang terbaik. Yang dipilih adalah mereka yang ingin jadikan KPK menjadi Komisi Pencegahan Korupsi," ujar dia.
"Dan mereka yang setuju akan revisi UU KPK yang sebenarnya akan melemahkan KPK," lanjut Emerson.
Bisa Diandalkan
Berbeda dengan ICW, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengapresiasi pilihan DPR itu. Khususnya Ketua KPK Agus Raharjo. Menurut pria yang karib disapa Ahok ini, Agus Rahardjo merupakan figur yang tepat dan cocok.
"Agus sangat cocok untuk memimpin KPK. Saya kenal dekat dengan Agus. Bahkan yang nolong RSUD Koja pakai rancang bangun itu, ya Pak Agus. Termasuk penghapusan outsourching di Jakarta itu karena Pak Agus," ujar Ahok kemarin.
Karena kedekatan itu, hampir setiap ada persoalan Ahok minta tolong Agus. Tidak terkecuali terkait sistem pengadaan barang dan jasa yang baik untuk DKI.
Menurut dia, Agus pula yang mendorong agar Jakarta menjadi percontohan daerah lain dalam penggunaan sistem e-catalog
"Jadi kalau Anda bicara e-catalog di republik ini, yang saya suka ngomong e-catalog, e-catalog di LKPP itu berhubungan langsung dengan Pak Agus Rahardjo," beber dia.
Sama dengan Ahok, Wakil Presiden Jusuf Kalla yakin pimpinan yang baru tersebut dapat lebih garang dalam memberantas korupsi dibandingkan pemimpin sebelumnya. Untuk itu, dia meminta kepada publik agar tak mengkritiknya terlebih dahulu.
"Yah jangan dulu dikritik sebelum menjalankan tugas yah, bisa-bisa lebih keras daripada yang lalu. Tunggu saja, saya yakin ini lebih keras," ujar JK di Istana Bogor, Jawa Barat, kemarin.
"Jangan hanya menganggap ahli antikorupsi hanya yang itu-itu saja. Ini lebih hebat lagi nanti, percaya sama saya," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




