Budaya Kritik Konstruktif demi Demokrasi yang Sehat

Budaya Kritik Konstruktif demi Demokrasi yang Sehat Founder YRJI sekaligus mantan Sekretaris Jenderal DPP GMNI, Muh. Ageng Dendy Setiawan.

Pemerintah tetap mempertahankan subsidi Pertalite untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah. Maka, analisis terhadap Pertamax perlu mempertimbangkan perbedaan karakteristik antara BBM subsidi dan non-subsidi.

Sementara itu, fluktuasi nilai tukar rupiah tidak bisa semata-mata dijadikan indikator keberhasilan atau kegagalan pemerintah. Rupiah dipengaruhi faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, kebijakan moneter negara maju, dan arus modal global. 

Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah menjaga stabilitas makro ekonomi, memperkuat penerimaan negara, serta menekan kebocoran anggaran. Pada akhirnya, demokrasi yang sehat membutuhkan budaya kritik yang bertanggung jawab. 

Kritik harus berlandaskan objektivitas, argumentasi rasional, dan semangat kebangsaan. Pemerintah perlu terbuka terhadap masukan, sementara masyarakat harus menilai kebijakan secara proporsional. 

Kritik bukan untuk menjatuhkan, melainkan memastikan kebijakan benar-benar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat sesuai amanat konstitusi.

Penulis merupakan Founder YRJI (Yayasan Rumah Juang Indonesia), sekaligus mantan Sekretaris Jenderal DPP GMNI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO