Bendera negara yang mengikuti Piala 2026 yang dikibarkan warga Desa Gerongan Kabupaten Pasuruan
Untuk satu bendera berukuran besar, warga harus merogoh kocek antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Nilai tersebut terbilang cukup besar bagi masyarakat pesisir yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.
Tanpa kepanitiaan khusus, warga bergotong royong menyiapkan tiang bambu, memasang bendera, hingga menata lingkungan desa agar tampil semarak selama turnamen berlangsung.
Kegiatan tersebut menjadi ajang berkumpul bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai anak-anak hingga orang tua, untuk menikmati atmosfer Piala Dunia bersama-sama dari kampung nelayan di pesisir Pasuruan.
Sekretaris Desa Gerongan, Kashani, mengatakan tradisi pemasangan bendera selalu dilakukan warga setiap kali Piala Dunia digelar.
"Ini sudah menjadi kebiasaan warga setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Antusiasmenya selalu tinggi dan menjadi bagian dari identitas desa," ujarnya.
Menurutnya, semarak Piala Dunia di Desa Gerongan tidak hanya terlihat dari banyaknya bendera yang dipasang, tetapi juga dari keterlibatan warga dalam mengikuti perkembangan turnamen.
Tradisi tersebut bahkan berlanjut selama kompetisi berlangsung. Bendera negara yang tersingkir akan diturunkan secara bertahap oleh para pendukungnya, sedangkan bendera negara yang masih bertahan akan terus berkibar hingga fase-fase akhir turnamen. (maf/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




