Moch Zamroni, Kadisnaker Lamongan
LAMONGAN,BANGSAONLINE.com - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lamongan meminta manajemen PT BMI melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menyusul insiden belasan karyawan yang mengalami pusing, mual, sesak napas, hingga lemas saat bekerja di ruang produksi.
Kepala Disnaker Lamongan, Moch Zamroni, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan tim K3 perusahaan untuk mengusut penyebab kejadian sekaligus memastikan seluruh pekerja yang terdampak mendapatkan penanganan medis secara optimal.
BACA JUGA:
- Diduga Hirup Gas Bocor, 19 Buruh Pabrik Pengolahan Udang di Lamongan Dilarikan ke Rumah Sakit
- Satpolairud Lamongan Buka Ruang Curhat Warga Pesisir Lewat Program Jumat Berkah
- Hendak Antar Pesanan Sabu, Pemuda di Paciran Dibekuk Polres Lamongan
- Diduga Ngantuk, Pengemudi Xenia Tabrak Gerobak Sampah di Lamongan hingga Tewaskan 1 Orang
"Kami meminta perusahaan melakukan evaluasi aspek K3. Keselamatan dan kesehatan pekerja harus menjadi perhatian utama dalam setiap aktivitas kerja," tegas Zamroni, Sabtu (06/06/2026).
Menurutnya, evaluasi akan difokuskan pada sejumlah aspek krusial, mulai dari kondisi lingkungan kerja, sistem sirkulasi udara, hingga kemungkinan adanya paparan zat tertentu di area produksi.
Selain itu, perusahaan juga diminta meninjau kembali penerapan standar operasional prosedur (SOP) guna mengetahui penyebab pasti para pekerja mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan.
Disnaker juga terus memantau perkembangan kondisi para korban yang masih menjalani observasi dan perawatan medis.
"Kami berkomunikasi dengan pihak K3 perusahaan karena ini menyangkut keselamatan karyawan. Kami pastikan seluruh karyawan mendapatkan penanganan medis hingga pulih kembali," ujarnya.
Sementara itu, penyelidikan terkait penyebab insiden masih dilakukan jajaran Polres Lamongan. Polisi berupaya memastikan jenis kandungan uap yang diduga memicu gangguan kesehatan terhadap para pekerja.
Kapolsek Deket, AKP Akhmad Khusen, mengatakan terdapat 19 karyawan yang sempat mendapatkan penanganan medis. Seluruh korban merupakan pekerja laki-laki.
"Yang dirawat ada 19 karyawan, semuanya laki-laki. Enam orang masih menjalani perawatan dengan infus, namun seluruhnya dalam kondisi sadar. Gejala yang dirasakan antara lain mual, mata perih, dan pusing," katanya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, polisi memastikan insiden tersebut bukan disebabkan kebocoran maupun ledakan tabung gas sebagaimana sempat beredar di masyarakat.
Menurut Khusen, dugaan sementara mengarah pada paparan uap yang berasal dari proses produksi di dalam ruangan.
"Dugaan awal berasal dari uap produksi yang terkompresi di dalam ruangan. Jadi bukan karena tabung bocor. Uap tersebut kemudian terhirup para karyawan hingga menyebabkan pusing dan mual dalam satu ruangan yang sama," jelasnya.
Meski demikian, polisi belum menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut. Satreskrim Polres Lamongan masih melakukan pendalaman untuk mengetahui kandungan uap yang menyebabkan para pekerja mengalami gangguan kesehatan.
"Untuk kepastian jenis uapnya masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut oleh Polres Lamongan," pungkasnya. (van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




