Para pekerja memeriksa lokasi serangan Israel di kota Tyre, Lebanon selatan, pada hari Minggu (31/5/2026) kemarin. Foto: Kawant Haju / AFP via Getty Images
Trump juga berterima kasih kepada Netanyahu karena bersedia memutar balik pasukannya dan tidak melakukan serangan besar-besaran ke Beirut. "Mari kita lihat berapa lama itu akan bertahan — Semoga itu akan berlangsung SELAMANYA!" tambahnya dalam postingan terpisah.
Pihak Lebanon sempat mengonfirmasi klaim ini. Kedutaan Besar Lebanon di Washington menyatakan bahwa Hizbullah menerima proposal AS mengenai "penghentian serangan bersama", di mana serangan Israel ke Beirut selatan akan dihentikan dengan imbalan berhentinya serangan Hizbullah ke Israel. Trump bahkan disebut telah menghubungi duta besar Lebanon untuk mengabarkan bahwa Netanyahu menyetujui kesepakatan tersebut.
Namun, klaim damai dari Trump tersebut segera dimentahkan oleh Netanyahu. Melalui akun X pribadinya, PM Israel itu menegaskan posisi militer negaranya tetap agresif.
“Saya berbicara malam ini dengan Presiden Trump dan mengatakan kepadanya bahwa jika Hizbullah tidak berhenti menyerang kota-kota dan warga sipil kami, Israel akan menyerang target teroris di Beirut. Ini tetap menjadi posisi kami. Pada saat yang sama, IDF akan terus beroperasi sesuai rencana di Lebanon selatan.”
Meskipun Iran menyatakan telah membekukan dialog, Trump justru mengklaim di Truth Social tanpa bukti bahwa, “Pembicaraan terus berlanjut, dengan cepat, dengan Republik Islam Iran.”
Saat diwawancarai oleh NBC News mengenai keputusan Iran yang menangguhkan negosiasi, Trump mengaku belum diberi tahu secara resmi, namun ia tidak ambil pusing.
“Itu hal yang tepat untuk dikatakan, karena mereka lebih baik dalam bernegosiasi daripada dalam bertempur,” kata Trump dalam panggilan telepon singkat. “Tetapi mereka belum memberi tahu kami tentang hal itu.”
“Bukan berarti kita akan langsung menjatuhkan bom di sana. Kita akan tetap memberlakukan blokade. Jika mereka tidak mau bicara, tidak apa-apa bagi saya. Saya rasa itu tidak masalah. Saya juga tidak terlalu ingin bicara. Kita sudah terlalu banyak bicara.”
Jika situasi terus memburuk, Iran mengancam akan menggunakan kartu as ekonomi mereka. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Teheran mempertimbangkan opsi penutupan penuh Selat Hormuz—jalur logistik vital yang membawa seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang—serta Selat Bab el-Mandeb untuk menghukum Israel dan sekutunya.
Esmail Ghaani, kepala Pasukan Quds (cabang eksternal Korps Garda Revolusi Islam Iran), menegaskan bahwa agresi Israel di Lebanon dan Gaza hanya akan memicu perlawanan yang lebih agresif dari kelompok milisi regional (Poros Perlawanan).
Kelompok-kelompok bersenjata tersebut akan "mengambil tindakan untuk mengaktifkan front lain dan membuat situasi lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb setara dengan situasi di Selat Hormuz," tegas Ghaani dalam tayangan televisi pemerintah Iran via Telegram.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




