Negara-negara NATO Menjauh, Trump Dinilai Frustasi Melawan Iran

Negara-negara NATO Menjauh, Trump Dinilai Frustasi Melawan Iran Donald Trump. Foto: wikipedia

JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mendapat tekanan – baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Presiden yang dalam Epstein File disebut banyak terlibat skandal seks – termasuk dengan anak di bawah umur - itu dinilai salah perhitungan dalam perang melawan Iran. Trump yang semula meremehkan Iran sehingga ia menyebut perang hanya akan menjadi "tamasya singkat" ternyata hingga tiga pekan Amerika dan Israel terus kedodoran.

Bhkan perang yang diciptakan Donald Trump itu kini berkembang menjadi krisis yang lebih kompleks dengan ditandai lonjakan harga energi global.

Yang menarik, negara-negara yang selama ini menjadi sekutu Amerika Serikat justru menjauh. Trump juga harus mengerahkan ribuan pasukan tambahan umtuk melawan Iran yang terus mengganas membombardir Israel dan pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab.

Hingga akhir pekan ini Trump hanya bisa bertahan dengan sikap defensif. Trump yang dikenal arogan dan ugal-ugalan dalam politik itu justru marah pada negara-negara anggota karena tak mau diajak membantu Amerika Serikat. Trump bahkan menyebut negara-negara anggota sebagai pengecut karena menolak membantu mengamankan Selat Hormuz. Namun ia mengklaim bahwa operasi militer yang dilancarkan Washington berjalan sesuai rencana.

Trump bahkan berkali-kali mengklaim bahwa Amerika telah memenangkan peperangan. Tapi faktanya perlawanan Iran terus berkobar. Artinya, klaim Trump yang dikenal mulut besar itu tak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Iran bahkan terus membombardir tempat-tempat strategis Israel dan Amerika, termasuk mengganggu pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk serta meluncurkan serangan rudal di berbagai wilayah.

Para analis politik internasional menyebut Trump tak sesuai dengan janji politiknya saat kampanye. Saat kampanye pemilihan presiden Trump berjanji akan menjauhkan AS dari intervensi militer "bodoh", tapi kini ternyata ia tidak sepenuhnya mengendalikan arah konflik yang turut ia mulai.

Seperti dilansir CNBC, ketiadaan strategi keluar yang jelas juga berpotensi menimbulkan dampak politik, baik bagi warisan kepresidenannya maupun bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO