Dari Kiri ke Kanan: M. Mas'ud Adnan, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dan Dr Nur Cholid dalam acara bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan di Pondok Pesantren Nasrul Ummah SMK Assaidiyah 2 Mejobo Kudus, Kamis (7/5/2026). Foto: bangsaonline.com
KUDUS, BANGSAONLINE.com – Ini julukan baru bagi Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA. Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pecet Mojokerto Jawa Timur itu dijuluki sebagai The Real Kiai Feminist atau The Real Feminist Kiai’s. Yaitu kiai yang memperjuangkan secara konkrit tentang kesetaraan gender.
Julukan itu disematkan Dr Hj Siti Malaiha Dewi, Wakil Rektor UIN Sunan Kudus dalam acara bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan karya M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com. Acara itu digelar PC Pergunu Kudus dalam rangka Hari lahir (Harlah) ke-74 Pergunu di Pondok Pesantren Nasrul Ummah SMK Assaidiyah 2 Mejobo Kudus, Kamis (7/5/2026).
BACA JUGA:
Menurut Malaiha, Kiai Asep telah memberi ruang besar kepada perempuan untuk berkiprah, baik di ranah keluarga maupun ruang publik. Salah satu contohnya Kiai Asep memberikan peran besar pada isterinya, Nyai Hj Alif Fadhilah, dalam menangani bisnis pesantren yang ia dirikan.
"Ini jarang dilakukan kiai lain," ujar Malaiha dalam bedah buku yang dimoderatori Dr Nur Kholid, Ketua PW Pergunu Jawa Tengah.
Hadir dalam acara itu Ketua PC Kudus H Rumadi dan jajarannya. Sementara rombongan Kiai Asep terdiri dari Dr Achmad Rubaie, Ketua Pengawas Yayasan Unitomo Surabaya, Muhammad Ghofirin, Sekjen Opop dan JKSN, Muhammad Fachruddin, Wakil Ketua PAN Jatim dan lainnya.
Dalam buku tersebut di halaman 43 memang disebutkan bahwa Kiai Asep banyak melibatkan istrinya dalam pengembangan usaha atau bisnis di pesantrennya. Bahkan Kiai Asep sangat bangga pada istrinya.
Kiai Asep juga menyebut penghasilan istri tercintanya. “Penghasilan istri saya, Pak Mas’ud, tiap bulan Rp 2 miliar,” kata Kiai Asep sambil menepuk-nepuk punggung istrinya.

Dr Malaiha Dewi, Dr Nur Said dan Dr Achmad Rubaie. Foto: bangsaonline.com.
Menurut Malaiha, jarang suami, apalagi seorang kiai, memberi ruang luas untuk istrinya berkiprah. Karena itu Malaiha menyebut Kiai Asep seorang kiai yang benar-benar berjuang untuk kesetaraan gender.
Tidak hanya itu. Menurut Malaiha, Kiai Asep juga seorang kiai yang sangat romantis. “Beliau menepuk-nepuk punggung istrinya. Berarti beliau sangat romantis,” ujar Malaiha sembari minta Mas’ud Adnan menulis buku lagi tentang sisi romantisme Kiai Asep dan istrinya.
Menurut dia, jarang sekali suami, apalagi seorang kiai, yang romantis seperti Kiai Asep.
Fakta lain bahwa Kiai Asep seorang feminist, tegas Malaiha, ketika mendukung dan memperjuangkan Khofifah Indar Parawansa sebagai gubernur Jawa Timur. Bahkan Kiai Asep tidak hanya menggalang dukungan massa tapi juga mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk memenangkan Khofifah sebagai gubernur Jawa Timur.
Menurut dia, langkan Kiai Asep mendukung Khofifah sebagai gubernur Jawa Timur merupakan bukti kongkrit bahwa Kiai Asep memberi ruang kepada perempuan untuk berkiprah di ruang publik. Menurut dia, banyak tokoh yang berjuang membela kesetaraan gender.
“Tapi tak sekongkrit Kiai Asep,” ujar Malaiha.
Karena itu ia menyebut Kiai Asep sebagai The Real Kiai Feminist atau kiai yang secara kongkrit atau benar-benar memperjuangkan kesetaraan gender.
Dr Nur Said, Wakil Dekan UIN Sunan Kudus mengatakan bahwa buku karya Mas’ud Adnan ini memang sangat inspiratif dan memberikan banyak pelajaran. Ia menilai Kiai Asep merupakan ulama visionir dan sukses mendidik para santrinya menjadi generasi berprestasi. Padahal letak pesantrennya di lereng gunung dan jauh dari pusat kota.
“Secara geografis pesantrennya berada di daerah pelosok, lereng gunung, tapi beliau memiliki visi global dengan cita-cita menjadikan para santri sebagai pemimpin masa depan,” ujar Nur Said.
Menurut Nur Said, buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan itu menarik karena tidak hanya memuat pemikiran dan perjalanan hidup Kiai Asep, tetapi juga berisi ijazah doa dan shalat malam. Ijazah doa dan shalat malam itu diletakkan di bagian akhir buku tersebut.
Bagi Nur Said, Kiai Asep bukanlah sosok asing, karena putrinya nyantri di Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Sehingga ia tahu bagaimana cara mengajar dan komitmen Kiai Asep dalam mendidik para santrinya.
Nur Said mencontohkan pada saat pandemi Covid 19 melanda negara seluruh dunia. Menurut dia, Kiai Asep tidak meliburkan santrinya. Bahkan para santrinya tetap masuk sekolah secara tatap muka. Padahal sekolah lain lewat daring atau libur.
“Ini pasti punya wirid-wirid yang ampuh,” ujarnya penasaran.
Sementara Mas’ud Adnan mengaku tertarik menulis buku tentang Kiai Asep karena merupakan ulama langka dan fenomenal. Menurut dia, Kiai Asep selain kaya dan dermawan juga sukses mendidik para santrinya menjadi generasi cerdas dan berprestasi.
“Pada tahun 2025 lalu sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah diterima di semua perguruan tinggi negeri favorit dan luar negeri. Di ITB, Unair, UI, UGM, IPB, Unhan, ITS, UB, dan juga di perguruan tinggi Amerika, Rusia, Mesir, China, Singapura, Kanada, Maroko, Tunisia dan negara-negara lainnya. Kalau ke Univesitas Al Azhar Mesir, santri Amanatul Ummah gampang sekali,” ujar Mas’ud Adnan yang alumnus Pesantren Tebuireng Jombang dan Pascasarjana Unair.
Kiai Asep sendiri banyak bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Ia mengaku ditinggal abahnya, KH Abdul Chalim, wafat saat kelas 2 SMA. Otomatis ia drop out dari sekolah.
“Karena secara logika sudah tidak ada lagi yang membiayai sekolah saya,” ujarnya sembari mengatakan bahwa saudara-saudaranya tak ada yang mampu secara ekonomi.
Kiai Asep putra pasangan Kiai Abdul Chalim dan Nyai Hj Qona’ah. Ia merupakan anak nomor 19 dari saudara-saudaranya, termasuk dengan saudara lain ibu.
“Kalau dengan saudara-saudara yang hidup saya nomor 15,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Yang menarik, Kiai Asep juga merespons soal cintanya yang kandas. Dalam buku itu memang ditulis tentang kisah cinta Kiai Asep yang tragis. Ia pernah ditolak tiga gadis karena dianggap sebagai lelaki tak punya masa depan.
“Sudah saya lamar. Lamaran saya diterima tapi setelah tiga bulan lamaran saya dikembalikan karena saya dianggap tak punya masa depan. Saya waktu itu kan guru. Berapa sih gaji guru saat itu,” ujarnya.
Peserta bedah buku langsung tertawa gemuruh.
“Tapi saya tak pernah punya rasa dendam,” tambah putra pahlawan nasional dan pendiri NU KH Abdul Chalim itu.
“Kalau orang lain kan dendam. Ada teman saya kecewa dengan perempuan bilang nanti kalau saya kaya saya akan beli mobil lalu saya akan main ke rumahnya,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep kemudian dinikahkan dengan seorang gadis yang masih kelas III SMP. Menurut Kiai Asep, gadis Indramayu itu dilamar hari itu juga dan dinikahkan hari itu juga.
Gadis itu Bernama Fadhilah. Tapi Kiai Asep menambahkan nama Alif sehingga namanya menjadi Alif Fadhilah. Dan itulah yang kemudian menjadi istrinya hingga sekarang. Dari pernikahannya dengan Nyai Hj Alif Fadhilah itu Kiai Asep dikaruniahi 9 putra-putri.
“Istri saya ini barakah,” ujar Kiai Asep.
Menurut Mas’ud Adnan, Kiai Asep mengaku lebih banyak mendidik para santrinya ketimbang anak-anaknya sendiri. “Kiai Asep punya keyakinan, jika kita peduli dan konsen mendidik anak-anak orang lain, maka Allah akan mendidik anak-anak kita,” ujarnya.
Faktanya, jelas Mas’ud Adnan, putra-putri Kiai Asep sukses semua secara pendidikan. “Ada yang lulusan University of Buckingham Inggris, Universitas Al Azhar, ada juga yang jadi bupati dan ada juga yang anggota DPR RI,” ujar Mas’ud Adnan yang banyak menulis tentang NU dan Gus Dur serta Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




