Dari Kiri ke Kanan: M. Mas'ud Adnan, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dan Dr Nur Cholid dalam acara bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan di Pondok Pesantren Nasrul Ummah SMK Assaidiyah 2 Mejobo Kudus, Kamis (7/5/2026). Foto: bangsaonline.com
Bagi Nur Said, Kiai Asep bukanlah sosok asing, karena putrinya nyantri di Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Sehingga ia tahu bagaimana cara mengajar dan komitmen Kiai Asep dalam mendidik para santrinya.
Nur Said mencontohkan pada saat pandemi Covid 19 melanda negara seluruh dunia. Menurut dia, Kiai Asep tidak meliburkan santrinya. Bahkan para santrinya tetap masuk sekolah secara tatap muka. Padahal sekolah lain lewat daring atau libur.
“Ini pasti punya wirid-wirid yang ampuh,” ujarnya penasaran.
Sementara Mas’ud Adnan mengaku tertarik menulis buku tentang Kiai Asep karena merupakan ulama langka dan fenomenal. Menurut dia, Kiai Asep selain kaya dan dermawan juga sukses mendidik para santrinya menjadi generasi cerdas dan berprestasi.
“Pada tahun 2025 lalu sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah diterima di semua perguruan tinggi negeri favorit dan luar negeri. Di ITB, Unair, UI, UGM, IPB, Unhan, ITS, UB, dan juga di perguruan tinggi Amerika, Rusia, Mesir, China, Singapura, Kanada, Maroko, Tunisia dan negara-negara lainnya. Kalau ke Univesitas Al Azhar Mesir, santri Amanatul Ummah gampang sekali,” ujar Mas’ud Adnan yang alumnus Pesantren Tebuireng Jombang dan Pascasarjana Unair.
Kiai Asep sendiri banyak bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Ia mengaku ditinggal abahnya, KH Abdul Chalim, wafat saat kelas 2 SMA. Otomatis ia drop out dari sekolah.
“Karena secara logika sudah tidak ada lagi yang membiayai sekolah saya,” ujarnya sembari mengatakan bahwa saudara-saudaranya tak ada yang mampu secara ekonomi.
Kiai Asep putra pasangan Kiai Abdul Chalim dan Nyai Hj Qona’ah. Ia merupakan anak nomor 19 dari saudara-saudaranya, termasuk dengan saudara lain ibu.
“Kalau dengan saudara-saudara yang hidup saya nomor 15,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Yang menarik, Kiai Asep juga merespons soal cintanya yang kandas. Dalam buku itu memang ditulis tentang kisah cinta Kiai Asep yang tragis. Ia pernah ditolak tiga gadis karena dianggap sebagai lelaki tak punya masa depan.
“Sudah saya lamar. Lamaran saya diterima tapi setelah tiga bulan lamaran saya dikembalikan karena saya dianggap tak punya masa depan. Saya waktu itu kan guru. Berapa sih gaji guru saat itu,” ujarnya.
Peserta bedah buku langsung tertawa gemuruh.
“Tapi saya tak pernah punya rasa dendam,” tambah putra pahlawan nasional dan pendiri NU KH Abdul Chalim itu.
“Kalau orang lain kan dendam. Ada teman saya kecewa dengan perempuan bilang nanti kalau saya kaya saya akan beli mobil lalu saya akan main ke rumahnya,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep kemudian dinikahkan dengan seorang gadis yang masih kelas III SMP. Menurut Kiai Asep, gadis Indramayu itu dilamar hari itu juga dan dinikahkan hari itu juga.
Gadis itu Bernama Fadhilah. Tapi Kiai Asep menambahkan nama Alif sehingga namanya menjadi Alif Fadhilah. Dan itulah yang kemudian menjadi istrinya hingga sekarang. Dari pernikahannya dengan Nyai Hj Alif Fadhilah itu Kiai Asep dikaruniahi 9 putra-putri.
“Istri saya ini barakah,” ujar Kiai Asep.
Menurut Mas’ud Adnan, Kiai Asep mengaku lebih banyak mendidik para santrinya ketimbang anak-anaknya sendiri. “Kiai Asep punya keyakinan, jika kita peduli dan konsen mendidik anak-anak orang lain, maka Allah akan mendidik anak-anak kita,” ujarnya.
Faktanya, jelas Mas’ud Adnan, putra-putri Kiai Asep sukses semua secara pendidikan. “Ada yang lulusan University of Buckingham Inggris, Universitas Al Azhar, ada juga yang jadi bupati dan ada juga yang anggota DPR RI,” ujar Mas’ud Adnan yang banyak menulis tentang NU dan Gus Dur serta Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




