Abdullah Machin. Foto: dok. pribadi
Karena itu, IDI perlu melakukan advokasi untuk mencegah terulangnya peristiwa ini sehingga pemangku kebijakan akan memberikan perhatian lebih terhadap peristiwa ini agar bisa mencegah terulangnya peristiwa ini.
Kemandirian tenaga medis saat inidi uji dengan regulasi-regulasi yang menyebabkan kesulitan tenaga medis untuk mengembangkan praktik mandiri. Karena itu, organisasi profesi haruslah memiliki peran-peran advokasi agar reguslasi di leval lokal dapat memfasilitasi usaha-usaha yang mencerminkan kemandirian tenaga medis melalui program-program yang mempermudah perizinan untuk tenaga medis.
Tantangan Internal
Tantangan di internal tenaga medis juga terjadi karena munculnya organisasi profesi lain di luar IDI serta berkurangnya pelibatan dalam proses kebijakan kesehatan menjadi tantangan terhadap posisi strategis organisasi di tingkat daerah.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan fragmentasi profesi dan melemahkan daya tawar kolektif dokter di Jawa Timur bila tidak direspons dengan terarah. Di tengah tantangan tersebut, situasi yang dihadapi seharusnya tidak semata dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai momentum transformasi organisasi di tingkat wilayah.
Jati diri IDI sebagai organisasi profesi yang menjunjung tinggi etika dan integritas perlu ditegaskan kembali melalui penguatan peran nyata dan dirasakan oleh anggota.
Dalam perspektif kepemimpinan ke depan, diyakini bahwa IDI Jawa Timur tidak cukup hanya bertahan, tetapi perlu aktif membangun kembali kepercayaan anggota melalui pelayanan yang konkret dan terukur.
Perlindungan Untuk Anggota IDI Perlu Ditingkatkan
IDI perlu meningkatkan fungsi perlindungan anggota, khususnya dalam aspek hukum dan etika yang diharapkan dapat diperkuat melalui pendampingan hukum yang profesional dan sistematis, serta edukasi berkelanjutan terkait potensi sengketa medik. Pengembangan kompetensi dan fasilitasi karier anggota juga perlu ditingkatkan dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan berbasis kebutuhan wilayah.
Dalam konteks ini, diyakini bahwa kebijakan organisasi yang berorientasi pada anggota akan menjadi kunci dalam menjaga soliditas profesi di Jawa Timur. Oleh sebab itu hubungan dengan pemerintah daerah dan stakeholder strategis perlu dibangun lebih konstruktif dan kolaboratif agar peran IDI tetap diperhitungkan dalam pembangunan kesehatan daerah.
Kontribusi pada masyarakat melalui program pengabdian yang berdampak juga perlu diperluas, terutama pada wilayah dengan akses layanan kesehatan yang masih terbatas.
Masa depan IDI Jawa Timur akan sangat ditentukan sejauh mana nilai etika dapat dijaga, integritas dapat ditegakkan, serta seluruh anggota dapat dirangkul dalam satu kesatuan organisasi.
Dalam kerangka tersebut, diyakini bahwa dengan penguatan internal dan orientasi pelayanan yang jelas, IDI Jawa Timur akan mampu tetap menjadi organisasi profesi yang kuat, bermartabat, dan relevan dalam mengawal profesi dokter serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




