Prof Dr Alwi Shihab memberikan cinderamata kepada Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim di Pondok Pesantren Sekolah Mandiri Cahaya Hati di kawasan Menteng Jakarta., Ahad (12/4/2026). Foto: bangsaonline
Kiai Asep menegaskan bahwa dosa-dosa kita tak bisa dimaafkan oleh Allah jika dosa kita kepada sesama manusia belum mendapatkan maaf. Karena itu, tegas Kiai Asep, Halal Bihalal yang isinya antara lain saling memaafkan sangat penting.
“Banyak sekali janji Allah terkait puasa. Barang siapa puasa akan diampuni dosa-dosanya. Barang siapa yang menjalankan ibadah pada malam Ramadan akan diampuni dosa-dosanya. Barang siapa yang ibadah satu malam saja tapi bertepatan dengan lailatul qadar akan diampuni dosa-dosanya,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu itu.
“Kalau dosa-dosa kita sudah diampuni oleh Allah, maka doa kita akan terkabulkan,” tambah kiai miliarder tapi dermawan itu.
Kiai Asep juga menyinggung tentang kondisi geopolitik. Ia berharap Indonensia atau Presiden Prabowo Subianto keluar dari Board of Peace (BoP). Alasannya, selain mayoritas bangsa Indonesia – terutama umat Islam – mendukung Iran dan Palestina juga karena pembukaan UUD 45 secara tegas mengatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan dari dunia karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Menurut Kiai Asep, Amerika Serikat dan Israel identik imprialis atau penjajah. “Negara-negara Arab yang ada pangkalan militer Amerika berarti mereka dalam penjajahan, bukan dilindungi Amerika,” ujar Kiai Asep.
Kiai Asep sangat senang ketika Presiden Prabowo berkunjung ke Rusia bertemu Presiden Putin.
"Ini bisa menetralisir Amerika dan Israel," ujar Kiai Asep.
Dari Bandung Kiai Asep meluncur ke Leumunding Majalengka. Di tempat masa kecilnya itu Kiai Asep memberikan pengajian Kitab Muchtarul Ahadits An-Nabawiyah kepada para santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah 02 Leuwimunding.
Pengajian Hadits yang berlangsung seusai shalat jemaah Subuh, Selasa (14/4/2026) itu menarik karena Kiai Asep setelah membaca Hadits dan mengartikannya tiba-tiba bertanya apakah ada santri yang hafal Hadits yang baru ia bacakan. Semula hanya satu dua yang mengacungkan tangan. Tapi lama-lama makin banyak, termasuk santri putri.
“Santri tidak cukup cerdas tapi juga harus cepat hafal,” ujar Kiai Asep yang pada tahun 2025 mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Nararya dari Presiden RI Prabowo Subianto.
Kiai Asep langsung memberikan uang kepada para santri yang hafal Hadits yang baru ia bacakan.
“Kalian harus menjadi orang terdepan di Indonesia,” ujar Kiai Asep.
Pada hari itu juga pukul 9 pagi Kiai Asep menghadiri pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) Pergunu Leuwimunding Majalengka. Dalam acara yang berlangsung di Aula Madrasah Unggulan Amanatul Ummah 02 Leumunding itu Kiai Asep memberikan pengarahan.
Pada siang harinya, Kiai Asep dan rombongan bergerak ke Pendopo Kabupaten Cirebon. Di pusat pemerintahan Cirebon itu Kiai Asep disambut Bupati Cirebon Haji Imron. Sambil menikmati nasi jamblang, kuliner khas Cirebon, Kiai Asep cukup lama membahas berbagai hal dengan Bupati Imron. Termasuk soal kuliner.
“Ini makanan elit waktu saya masih kecil,” tutur Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.
Baik Kiai Asep maupun Bupati Imron kemudian menyampaikan sambutan dalam acara pelantikan Pengurus Cabang dan Pengurus Anak Cabang se-Cirebon. Acara yang digelar di Pendopo Kabupaten Cirebon itu juga dihadiri Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH. Aziz Hakim Syaerozie, kepala kemenag dan tokoh-tokoh Cirebon lainnya.
Acara pelantikan itu berakhir pukul 17.00 WIB. Kiai Asep belum juga istirahat. Bahkan Kiai Asep dan rombongan meluncur ke Pesantren Bina Insan Mulia di Cisaat Cirebon. Di pesantren yang bangunannya beraritektur klasik serta penuh ornament kayu jati itu sudah menunggu KH Imam Jazuli, pendiri dan pengasuh pesantren tersebut. Kiai Imjaz – panggilan popular Kiai Imam Jazuli – menyambut Kiai Asep bersama istrinya, Umi Nyai Hj. Malika Lulu, S.Psi.
Kia Asep – lagi-lagi – diminta untuk memberikan motivasi dan pengarahan. Kali ini bukan kepada para santri, melainkan kepada para ustadz dan ustadzah di pesantren tersebut. Kiai Asep mengakhiri pidatonya sekitar pukul 20.12 WIB. Setelah pamitan, Kiai Asep dan rombongan langsung melesat ke stasiun kereta api Cirebon. Kiai Asep dan rombongan naik jes-jes malam ke Surabaya dan tiba pukul 3.55 menjelang Subuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




