Lia Istifhama dan Aang Kunaifi saat menjadi narasumber dalam Momentum Syawalan Pemuda Jawa Timur.
Ia pun mengajak pemuda untuk berani membangun dari apa yang dimiliki saat ini, serta mengedepankan kolaborasi. “Kita bangun. Kita pemuda, kita punya apa. Kita kombinasikan, kita bumikan dengan cara yang cantik,” pesannya.
Sementara itu, Ketua KPU Jawa Timur, Aang Kunaifi, melengkapi perspektif tersebut dengan menekankan pentingnya keterlibatan aktif pemuda dalam proses demokrasi. Dalam suasana Syawal, ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya hadir saat hari pencoblosan, tetapi juga ikut mengawal proses pemilu sejak awal.
“Sering kali kita merasa cukup hanya datang dan memilih. Padahal demokrasi itu proses panjang. Kita semua punya peran sejak jauh hari sebelumnya,” ujarnya.
Aang menyoroti masih adanya sikap apatis di tengah masyarakat terhadap pemilu. Padahal, menurutnya, publik memiliki ruang luas untuk memberi masukan, mengawasi, hingga mengkritisi penyelenggaraan pemilu.
“Kalau kita tidak peduli, lalu siapa lagi? Demokrasi yang baik itu lahir dari masyarakat yang mau terlibat,” ucapnya.
Di tengah kemajuan teknologi, ia melihat peluang besar bagi pemuda untuk berperan lebih aktif. Namun, ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak hanya cepat menerima informasi, tetapi juga cerdas dalam menyaringnya.
Menjelang Pemilu 2029, Aang menegaskan bahwa tantangan akan semakin kompleks. Karena itu, pemuda dituntut untuk adaptif, kritis, dan memiliki integritas.
“KPU selalu terbuka. Tapi demokrasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa partisipasi masyarakat, terutama anak-anak muda,” pungkasnya.
Melalui forum Syawalan ini, pesan yang disampaikan terasa saling melengkapi: bahwa masa depan Jawa Timur dan Indonesia tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada kualitas pemudanya—yang cerdas membaca informasi, kuat dalam nilai, serta aktif mengambil peran dalam demokrasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




