Rumah di Kota Probolinggo jadi Korban Pelemparan Petasan, Dua Pelaku Terekam Kamera CCTV

Rumah di Kota Probolinggo jadi Korban Pelemparan Petasan, Dua Pelaku Terekam Kamera CCTV Tangkapan layar rekaman CCTV saat pelaku melakukan teror petasan di sebuah rumah di Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, menjadi aksi teror petasan, pada Sabtu (28/3/2026) malam.

PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com - Sebuah rumah di Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, menjadi aksi teror petasan, pada Sabtu (28/3/2026) malam. Pelaku diduga berjumlah dua orang dan berstatus masih remaja.

Peristiwa itu, terekam CCTV milik korban. Dalam rekaman tersebut, terlihat dua pelaku berboncengan dengan menggunakan, sepeda motor matik. Motor pelaku sempat berhenti di depan rumah Dwi Anggara (44).

Salah satu pelaku terlihat menggunakan jaket berwarna merah kombinasi hitam dan celana pendek turun dari kendaraan. Kemudian, ia menyalakan petasan dan melemparkannya ke arah rumah korban, namun petasan pertama tidak meledak.

Tak berselang lama, pelaku kembali menyalakan petasan kedua. Kali ini, petasan tersebut meledak di teras rumah korban.

Korban yang mengetahui kejadian itu sempat berusaha mengejar pelaku. Namun, keduanya berhasil melarikan diri ke arah selatan.

Menurut korban, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 22.45 WIB. Ia mengaku terkejut karena tidak merasa memiliki masalah dengan siapa pun di lingkungannya.

"Kejadian itu sekitar jam 10.45 malam. Dari CCTV terlihat ada dua orang. Kejadiannya dua kali, yang pertama gagal meledak. Terus yang kedua dia balik lagi dan melempar petasan di depan teras," ujar Dwi Anggara, Senin (30/3/2026).

Korban mengaku khawatir ledakan petasan dapat menyebabkan kerusakan, terutama jika mengenai kaca rumah atau memicu kebakaran.

"Saya takut kalau kaca pecah saat petasan meledak dan bisa menyebabkan kebakaran. Pelakunya saya tidak kenal, tapi kelihatannya masih remaja," tambahnya.

Dwi juga menyebut tidak mengetahui motif aksi tersebut. Ia merasa tidak memiliki konflik dengan warga sekitar, sementara anaknya masih bersekolah di tingkat SMP.

Saat kejadian, korban mengaku sedang menonton televisi sambil memantau rekaman CCTV. Hal itu dilakukan setelah sebelumnya ada laporan tetangga yang kehilangan tabung gas LPG.

Meski mengalami teror, hingga kini korban mengaku belum berencana melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. (rif)