Achmad Fauzi.
Meriah. Suasana Lebaran Ketupat di Alun-Alun Bangkalan Madura.
Lebaran Ketupat juga menjadi ruang koreksi yang sering terlewat. Jika Idulfitri identik dengan saling memaafkan dalam lingkar keluarga, maka hari ketujuh ini memperluasnya. Tetangga, sahabat, hingga relasi yang sempat renggang kembali disapa. Tradisi saling berkunjung dari rumah ke rumah, mencapai intensitasnya.
Di balik itu, tersimpan satu makna yang lebih jujur, ngaku lepat, pengakuan atas kesalahan.
Bukan sekadar formalitas ucapan maaf, tetapi kesadaran untuk menuntaskan yang belum selesai. Bahwa memaafkan dan meminta maaf adalah proses, bukan seremoni satu hari.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai ini terasa semakin relevan. Relasi sosial kerap menjadi dangkal, silaturahmi sekadar simbolik. Lebaran Ketupat hadir sebagai pengingat, bahwa memperbaiki hubungan membutuhkan waktu, ruang, dan ketulusan.
Bagi sebagian masyarakat Madura, tradisi ini juga menjadi penutup spiritual. Puasa enam hari di bulan Syawal menemukan muaranya di sini, dalam bentuk syukur yang diwujudkan melalui berbagi dan berkumpul. Ada rasa “tuntas” yang tidak selalu ditemukan pada hari pertama lebaran.
Maka, Lebaran Ketupat sesungguhnya adalah cermin. Ia mengajak setiap orang menengok ke dalam, apakah benar kita sudah kembali pada fitrah, atau sekadar merayakan tanpa makna.
Di tengah anyaman ketupat yang rumit, terselip pesan sederhana: Hidup boleh kusut, tetapi hati harus tetap jernih. Dan mungkin, di situlah tradisi ini menemukan relevansinya, bukan hanya untuk dirayakan, tetapi untuk direnungkan.
*Penulis adalah wartawan Harian Bangsa dan Bangsaonline.com
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




