Acara porak tumpeng melambangkan kemakmuran yang dinikmati bersama tanpa memandang perbedaan. Foto: Ist
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Warga Kabupaten Kediri menggelar tradisi budaya Metri Hyang Bagawanta Bhari di bantaran Sungai Serinjing, Dusun Kedungcangkring, Desa Jambu, Kecamatan Kayen Kidul, Selasa (24/3/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1222 sekaligus upaya merawat warisan leluhur.
Acara menampilkan doa lintas agama, larung sesaji, dan porak tumpeng. Tradisi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat makna spiritual, historis, dan ekologis.
Zeni Irfan selaku panitia kegiatan menyebut, tradisi tersebut sebagai bentuk kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga sumber kehidupan.
“Makna utamanya adalah manifestasi kesadaran kolektif untuk mencintai dan merawat denyut nadi kehidupan Kediri, yaitu Sungai Serinjing,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Menurut dia, tradisi ini juga menjadi pengingat jasa tokoh Bagawanta Bhari yang berperan penting dalam pengelolaan air dan sistem irigasi pada masa lampau, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Harinjing.
Konsep Hatur Leluhur yang diangkat dimaknai sebagai penghormatan terhadap perjalanan panjang Kabupaten Kediri sekaligus sarana napak tilas spiritual dan historis masyarakat.
Ia menjelaskan, prosesi larung sesaji melambangkan rasa syukur kepada alam sekaligus pelepasan ego manusia, sedangkan porak tumpeng menjadi simbol kemakmuran yang dinikmati bersama tanpa memandang perbedaan.
Puncak acara ditandai doa lintas agama yang melibatkan berbagai pemeluk agama dan penghayat kepercayaan.
“Di sini kita melihat bagaimana perbedaan bisa melebur dalam satu harmoni untuk tujuan yang sama. Melalui tradisi ini, masyarakat Kediri tidak hanya merayakan hari jadi daerah, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga lingkungan, menghormati leluhur, dan memperkuat persatuan,” kata Zeni. (uji/mar)

























