Melalui Sekolah Hutan Lestari yang digagas Pertamina, pola pikir masyarakat perlahan berubah.
Hutan tidak lagi dilihat sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai ruang hidup yang harus dirawat.

Bersama Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Margo Rukun, mereka menanam puluhan ribu pohon produktif, mengolah limbah kopi menjadi pupuk, dan mengembangkan budidaya lebah.
Hasilnya bukan hanya pemulihan lingkungan, tetapi juga kemandirian ekonomi dengan omzet miliaran rupiah per tahun.
Sementara itu di pesisir selatan Jawa, tepatnya di Kampung Laut, Cilacap, perjuangan menjaga alam sempat dianggap sebagai kegilaan.
Wahyono, yang gigih menanam mangrove di lahan tandus, pernah dipandang sebelah mata. Namun waktu membuktikan keyakinannya.
Kawasan yang dulu gersang kini berubah menjadi ekosistem yang hidup, bahkan berkembang menjadi pusat eduwisata berbasis konservasi.
Produksi ratusan ribu bibit mangrove setiap tahun menjadi bukti bahwa ketekunan dapat memulihkan alam sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa kisah-kisah ini merupakan cerminan komitmen perusahaan dalam membangun keseimbangan antara bisnis dan keberlanjutan.
Program Hutan Lestari tidak hanya berfokus pada penghijauan, tetapi juga mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat dan edukasi lingkungan.
Lebih dari delapan juta pohon telah ditanam melalui program ini, menjadikannya bagian dari kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek ketahanan pangan, konsumsi berkelanjutan, dan aksi terhadap perubahan iklim.
Pada akhirnya, Hutan Lestari bukan sekadar program rehabilitasi lingkungan. Ia adalah cerita tentang perubahan cara pandang bahwa hutan bukan hanya untuk dijaga dari kerusakan, tetapi untuk dirawat agar terus memberi kehidupan.(uzi/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




