Donald Trump, Presiden AS (dok. Xinhua)
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian memuncak setelah Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Teheran berpotensi berlangsung hingga lima minggu, di tengah rentetan serangan yang menelan korban jiwa di berbagai negara.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan The New York Times. Ia menyebut operasi bisa berjalan selama empat hingga lima minggu, namun tidak merinci bagaimana arah politik di Teheran akan berubah setelah tekanan militer tersebut.
Ucapan tersebut memantik spekulasi luas. Sejumlah pengamat mempertanyakan tujuan akhir Washington, apakah sekadar meningkatkan tekanan militer atau menjadi bagian dari strategi perubahan kekuasaan di Iran.
Memasuki hari kedua ofensif besar-besaran, Amerika Serikat bersama Israel menggencarkan serangan.
Lebih dari 2.000 titik di berbagai wilayah Iran dilaporkan menjadi sasaran, mulai dari fasilitas pengembangan rudal, pusat komando militer, hingga instalasi strategis yang dinilai vital bagi pertahanan negara itu.
Operasi ini disebut sebagai salah satu yang paling intens dalam beberapa tahun terakhir di kawasan Timur Tengah.
Iran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel serta sejumlah negara di kawasan Teluk Persia.
Aksi balasan tersebut menandai babak baru konfrontasi terbuka yang berisiko meluas ke berbagai penjuru kawasan.
Di tengah eskalasi itu, kabar duka datang dari pihak Amerika Serikat. Sebuah serangan menghantam pangkalan militer AS di Kuwait dan menewaskan tiga tentara Amerika. Mereka menjadi korban pertama dari pihak AS sejak konflik terbuka dengan Iran pecah.
Trump menyampaikan belasungkawa dan mengakui kemungkinan bertambahnya korban seiring berlanjutnya operasi militer.
Ia juga mengungkapkan bahwa pimpinan baru Iran disebut-sebut ingin membuka jalur komunikasi dengannya. Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran terkait klaim tersebut.
Dalam kesempatan itu, Trump kembali menyerukan agar rakyat Iran mengambil alih pemerintahan mereka sendiri.
Meski demikian, ia tidak menjelaskan secara rinci bentuk dukungan atau perlindungan yang akan diberikan Washington apabila skenario tersebut terjadi.
Dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh dua negara yang terlibat langsung. Di Israel, sedikitnya sembilan orang tewas akibat serangan di wilayah tengah negara itu, menjadi insiden paling mematikan sejak konflik dimulai.
Satu korban jiwa juga dilaporkan di Uni Emirat Arab, sementara empat orang meninggal dunia di Suriah akibat imbas serangan yang terus meluas.
Korban terbesar dilaporkan terjadi di wilayah selatan Iran. Media pemerintah setempat menyebut sedikitnya 115 orang tewas, termasuk puluhan anak-anak, setelah serangan menghantam Sekolah Shajarah Tayyebeh yang berada di dekat pangkalan angkatan laut.
Tragedi itu menjadi salah satu peristiwa paling memilukan dalam rangkaian serangan yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.














