Para pekerja memeriksa lokasi serangan Israel di kota Tyre, Lebanon selatan, pada hari Minggu (31/5/2026) kemarin. Foto: Kawant Haju / AFP via Getty Images
TEHERAN, BANGSAONLINE.com - Upaya untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan kini menemui jalan buntu. Pemerintah Iran memutuskan untuk menangguhkan negosiasi penting dengan Amerika Serikat pada Senin (1/6/2026). Langkah ini diambil sebagai bentuk protes atas perluasan serangan militer Israel di Lebanon.
“Tim negosiasi Iran akan menangguhkan ‘perundingan dan pertukaran teks melalui mediator,’” lapor kantor berita semi-resmi Tasnim.
BACA JUGA:
- Tiga Prediksi Analis Geopolitik China: Amerika Bakal Kalah Lawan Iran, Ini Alasan Logisnya
- Iran Beri Lampu Hijau Dua Kapal Tanker Indonesia di Selat Mormuz
- Tentara Amerika di Timteng Lari ke Hotel-Hotel, Iran Peringatkan Bakal Serang Mereka
- Gagal Gulingkan Pemerintah Iran, Netanyahu Frustasi, Trump Termakan Janji-Janji Mossad
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, telah berkomunikasi langsung dengan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri. Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam jika Israel terus membombardir Lebanon.
“Selama dua hari terakhir, kami telah serius berupaya untuk menghentikan serangan Israel. Jika kejahatan ini berlanjut, kami tidak hanya akan menangguhkan proses negosiasi, tetapi kami juga akan menentang rezim Zionis,” kata Ghalibaf, menurut laporan Islamic Republic News Agency.
“Jika kesepakatan tercapai untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat, kesepakatan itu akan mencakup penghentian serangan di semua lini, terutama di Lebanon,” tambahnya.
Kementerian Luar Negeri Iran juga menuding Washington terlibat di balik eskalasi ini. AS dinilai “bertanggung jawab langsung baik atas pelanggaran gencatan senjata terhadap Iran maupun atas pelanggaran yang dilakukan oleh rezim Zionis terhadap Lebanon.”
Peringatan senada juga dilontarkan oleh Ebrahim Azizi, Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, melalui media sosial X:
“Jika serangan terhadap Lebanon tidak berhenti sepenuhnya, konsekuensinya akan berat bagi rezim Zionis dan pasukan AS di kawasan itu. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa ini bukan ancaman kosong, dan kami siap untuk respons militer.”
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan narasi yang berbeda melalui platform Truth Social. Trump mengklaim telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan perwakilan Hizbullah untuk meredakan ketegangan.
“Saya melakukan panggilan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu, dari Israel, dan tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut, dan pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan,” tulis Trump.
“Demikian pula, melalui perwakilan yang berkedudukan tinggi, saya melakukan panggilan yang sangat baik dengan Hizbullah, dan mereka setuju bahwa semua penembakan akan berhenti — bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel.”
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




