Bahkan keinginan wartawan untuk menemui siswa yang kehilangan robot-robotnya juga dihalang-halangi. Roji'in tidak memperbolehkan wartawan menemui mereka dan meminta wartawan menghentikan liputan dan pertemuannya dengan Suci.
Kontan saja, si guru pendamping Suci langsung terdiam dan menghentikan ngobrolnya.
Roman muka Suci berubah karena takut pada sikap Roji'in. Ketika wartawan meminta kembali kesempatan untuk bertemu siswa peserta lomba, Roji'in tetap melarang sambil memasang wajah garang.
“Kasihan siswanya, tidak. Nanti malah sedih lagi,” tandasnya. Namun, ungkapan Roji'in disergah Suci dan menyahut bahwa para siswa yang kehilangan robotnya dalam kondisi baik-baik saja.
“Anaknya biasa, ini musibah, kalau rejekinya akan kembali. Anak-anak bisa menerima, kok,” sahut Suci.
Saat wartawan kembali bertanya kepada Suci, Roji'in kembali menyela dan meminta wawancarai diakhiri. “Informasinya sudah cukup,” tegasnya.
Permohonan izin untuk mengambil foto pun dilarang. “Ngambil gambarnya tidak boleh, tidak boleh,” tegasnya.
Mendapat beberapa penolakan, wartawan pun memilih untuk meninggalkan MTsN Babat. (uya/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




