Ekonomi Nurani dan Kepemimpinan Perempuan: Dari Ketangguhan Khadijah hingga Visi Sosial Khofifah–Lia

Ekonomi Nurani dan Kepemimpinan Perempuan: Dari Ketangguhan Khadijah hingga Visi Sosial Khofifah–Lia Lia Istifhama, Anggota DPD RI/MPR RI.

Ekonomi dilihatnya bukan hanya urusan pasar, tetapi ekosistem relasi—antara negara, aparat, dan warga. Penekanannya pada kepercayaan publik, stabilitas institusi, dan kesinambungan kebijakan jangka panjang menunjukkan kedewasaan politik yang melampaui kepentingan elektoral.

Jika Khofifah adalah arsitek ketahanan sosial-ekonomi, maka Lia adalah penjaga jembatan kepercayaan generasi. Keduanya membentuk satu spektrum kepemimpinan perempuan Indonesia yang utuh: berakar pada nilai religius, bergerak dengan rasionalitas modern, dan berpandangan jauh ke depan. Inilah model kepemimpinan yang tidak reaktif terhadap krisis, tetapi proaktif membangun peradaban.

Catatan pinggir ini ingin menegaskan satu hal penting: masa depan Indonesia tidak cukup dipimpin oleh mereka yang pandai berkuasa, tetapi oleh mereka yang mampu merawat kehidupan.

Dalam dunia yang semakin keras dan kompetitif, kepemimpinan ala Khadijah—yang diterjemahkan secara kontekstual oleh Khofifah dan Lia—justru menjadi jawaban paling relevan. Ekonomi yang berkeadilan, sosial yang beradab, dan politik yang bermoral bukanlah utopia, melainkan kebutuhan zaman.

Dan sejarah selalu mencatat: bangsa besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan arah moral. Indonesia masih memiliki arah itu—selama kepemimpinan nurani tetap diberi ruang untuk memimpin. Wallahu A'lamu Bisshawab.

*Penulis adalah Ketua Komisi Hubungan Ulama-Umara MUI Provinsi Jawa Timur

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Emak-emak di Surabaya Kecewa Tak Bisa Foto Bareng Jokowi':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO