Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim saat menyampaikan taushiyah dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kiai Santri Nasional Sulawesi Selatan (JKSN) Sulawesi Selatan (Sulsel) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, Kamis (5/2/2026). Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline
Keistimewaan pesantren yang lain, menurut Kiai Asep, terletak pada gurunya.
“Seorang guru harus selalu meningkatkan kompetensinya,” tutur Kiai Asep yang juga mendapat penghargaan dari Bank Indonesia sebagai Tokoh Penggerak Ekonomi Keuangan Syariah untuk Negeri.
“Seorang guru di pesantren harus menjadi teladan moral bagi muridnya,” tegas Kiai Asep lagi.
Selain itu, kata Kiai Asep, seorang guru di pesantren harus menganggap murid seperti anak kandung sendiri. “Seorang guru juga harus selalu mendoakan muridnya,” tambah Kiai Asep sembari mengatakan bahwa di SMA Negeri sulit ditemukan guru mendoakan muridnya.
Menurut Kiai Asep, murid atau santri juga harus dikondisikan. Menurut Kiai Asep, ada tujuh kunci sukses untuk murid atau santri.
“Pertama, aljiddu wal muwaddhabah,” ujar Kiai Asep. Yaitu berkesungguhan dan berketekunan.
Kedua, taqlilul ghida. Yaitu sedikit makan. Makan jika lapar, tapi berhenti makan sebelum kenyang.
“Karena kenyang itu menghilangkan kecerdasan,” tukas Kiai Asep.
Ketiga, mudawamatul wudlu. Artinya, tak pernah putus wudlu. Begitu wudlu batal, segera berwudulu lagi.
“Karena ilmu itu Cahaya, dan wudlu itu juga Cahaya,” katanya. Artinya, jika Cahaya bertemu Cahaya akan mudah merasuk dan saling menembus.
Keempat, tarkul ma’ashi alias meninggalkan maksiat. “Orang yang punya dosa itu selalu beban,” ujarnya.
Kelima, qiratul Quran nadran. Yaitu membaca Al Quran dengan cara melihat bacaan Al Qurannya, bukan hafalan.
“Karena orang yang membaca al Quran dengan melihat al Qurannya pikirannya akan terlibat dalam berpikir,” tuturnya. Sehingga pikirannya aktif dan terus bekerja secara kreatif dan produktif.
Keenam, Shalatul lail. Yaitu shalat malam.
Menurut Kiai Asep, shalat malam adalah kendaaraan untuk mencapai sukses. Di Amanatul Ummah para santri tiap pukul 3.00 malam tau dini hari harus bangun untuk mengikuti shalat hajat 12 rakaat dengan enam kali salam. Kemudian dipungkasi shalat witir tiga rakaat dengan dua kali salam.
Ketujuh, santri tak boleh jajan atau beli kue di luar.
“Karena jajan di luar lebih mendekati kotor, jajan di luar lebih dekat pada najis,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




