BANGSAONLINE.com - Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan tetap positif pada kuartal I 2026. Momentum Ramadhan dan Idulfitri disebut menjadi faktor historis yang mendorong peningkatan aktivitas ekonomi.
“Secara historis, momentum Ramadhan dan Idulfitri cenderung mendorong peningkatan aktivitas ekonomi, khususnya konsumsi rumah tangga dan sektor-sektor produktif pendukung seperti perdagangan, transportasi, akomodasi, serta industri makanan dan minuman,” ujarnya, Senin (27/1/2026).
Momentum tersebut diharapkan meningkatkan permintaan kredit, termasuk kredit konsumsi dan kredit modal kerja. Selain faktor musiman, Dian menyebut transmisi kebijakan moneter yang membaik, tren penurunan suku bunga pinjaman, serta percepatan belanja pemerintah dan investasi swasta turut mendukung pertumbuhan kredit awal 2026.
OJK mencatat intermediasi perbankan hingga November 2025 relatif stabil dengan profil risiko terjaga dan likuiditas memadai. Pertumbuhan kredit tahunan (yoy) mencapai 7,74 persen, naik dari 7,36 persen pada Oktober 2025.
Rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,21 persen, membaik dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar 2,25 persen. Kondisi ini ditopang oleh pertumbuhan Kredit Investasi (KI) yang tumbuh 17,98 persen yoy.
“Hal ini menunjukkan perbankan telah mampu mengatasi berbagai tantangan dalam penyaluran kredit dan sektor riil telah mulai menunjukkan perbaikan permintaan,” kata Dian.
OJK mendorong perbankan menyalurkan kredit secara optimal sesuai keahlian, dan risk appetite masing-masing bank agar peluang bisnis dimanfaatkan dengan baik, sekaligus menjaga pertumbuhan kredit yang sehat dan berkelanjutan.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi 17,98 persen yoy, diikuti kredit konsumsi 6,67 persen yoy, dan kredit modal kerja 2,04 persen yoy. Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 12 persen yoy, sementara kredit UMKM masih terkontraksi.
Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) per November 2025 tumbuh 12,03 persen yoy, meningkat dari 11,48 persen yoy sebelumnya, dengan total mencapai Rp9.899,07 triliun. (rom)






