Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dan KH Imam Jazuli, Lc, MA dalam acara Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Uma Cirebon di Aula Pondok Pesantren BIMA Cirebon, Ahad (25/1/206) malam. Foto: MMA/bangsaonline
“Yang diterima di Rusia semua jurusan persenjataan,” ujar Kiai Imam Jazuli sembari mengatakan bahwa pesantren BIMA mendapat jatah beasiswa 25 santri di perguruan tinggi Rusia.
Sementara Kiai Asep dalam sambutannya mengawali dengan bercerita peran kiai pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Pesantren melakukan perlawanan terhadap Belanda, tapi dengan mudahnya ditumpas,” ujar Kiai Asep. “Karena melakukan perlawanan sendiri-sendiri,” tambah putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.
Maka perlu persatuan. Menurut dia, KH A Wahab Hasbullah dan KH Abdul Chalim (ayah Kiai Asep) semula menjadi anggota Syarikat Islam (SI) yang dipimpin HOS Tjokroaminoto. Namun kemudian memisahkan diri.
“Karena Tjokroaminoto menganut khilafah,” ujar Kiai Asep.
Sebaliknya, Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menganut Ahlussunnah Wal Jemaah atau Islam inklusif dan moderat. Menurut Kiai Asep, Hadratussyaikh menekankan persatuan dan kesatuan bangsa. Tanpa persatuan sulit melawan penjajah Belanda.
Karena itu Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim kemudian keluar dari SI yang menganut khilafah.
“Karena beda pemahaman keislaman. Karena tak mungkin dengan khilafah bisa menghadapi Belanda. Karena sulit membangun persatuan,” ujarnya.
Kiai Wahab kemudian mendirikan lembaga kader. Yaitu Nahdlatul Wathan. Lembaga inilah yang banyak mencetak generasi bangsa dari NU. Bahkan kader-kader Nahdlatul Wathan inilah yang kemudian banyak mengisi kepengurusan PBNU pertama.
“Ketika NU berdiri Belanda langsung merasa bangsa ini akan merdeka, karena kiai-kiai pesantren yang selama ini melakukan perlawanan sekarang bersatu,” ujar Kiai Asep.
Meski demikian kemerdekaan itu hampir lepas. Sehingga terjadi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang mayoritas pelakunya adalah para kiai dan santri.
“Sekitar 30 ribu mayat memenuhi sungai Kalimas di Jembatan Merah Surabaya,” kata Kiai Asep mengutip berita dari The new York Times.
Sekarang, kata Kiai Asep, orientasi perjuangan pesantren harus mengalami transformasi. Jika dulu untuk kemerdekaan bangsa, sekarangg untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Yaitu Indonesia maju, adil dan makmur.
Untuk mewujudkan cita-cita itu pesantren harus melahirkan empat pilar bangsa. Pertama, ulama besar yang bisa menerangi dunia, utamanya Indonesia. Kedua, pemimpin dunia dan bangsa yang bisa menciptakan kesejahteran dan keadilan. Ketiga, konglomerat besar yang berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa.
“Maaf, bukan konglomerat seperti sekarang,” tegas kiai miliarder tapi dermawan itu.
Keempat, generasi professional yang berkualitas dan bertanggungjawab.
Menurut Kiai Asep, tantangan NU dan pesantren bagaimana bisa memajukan bangsa.
“Dulu pesantren sukses memperjuangkan kemerdekaan,” tegasnya.
Sekarang, tegas Kiai Asep, bagaimana kita memperjuangkan Indonesia maju, adil dan makmur.
“Sekarang sulit dibayangkan, seperti dulu kita sulit membayangkan Indonesia merdeka. Tapi nanti pada saatnya akan terwujud,” tegas pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu.
Menurut dia, pesantren adalah lembaga pendidikan sangat strategis untuk mencetak kader bagnsa. Sebab pesantren memiliki waktu lebih lama ketimbang sekolah umum. Hanya saja, tegas Kiai Asep, pesantren harus melakukan transformasi seperti Amanatul Ummah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




