Duet KH Imam Jazuli-KH Asep Saifuddin Chalim, Jawaban Konkret Muktamar ke-35 NU

Duet KH Imam Jazuli-KH Asep Saifuddin Chalim, Jawaban Konkret Muktamar ke-35 NU Prod Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dan KH Imam Jazuli, Lc, MA. Foto: BIMA

Pertama, Kemandirian Ekonomi dan Organisasi.

Masyarakat melihat keduanya sebagai figur yang mandiri secara finansial. Hal ini memberikan jaminan bahwa PBNU di masa depan tidak akan mudah "disetir" oleh kepentingan donor politik praktis. Mereka membawa modal kemandirian pesantren ke dalam struktur organisasi.

Kedua. Representasi Geopolitik Jabar-Jatim.

Pertemuan di Cirebon (Jawa Barat) semalam menegaskan soliditas poros Jabar-Jatim. sebagai motor penggerak pemikiran progresif di Jawa Barat, bersanding dengan Kiai Asep yang merupakan pilar utama dari Jawa Timur. Ini adalah kombinasi kekuatan kultural NU yang paling stabil.

Ketiga. Keseimbangan Intelektual dan Spiritual

mewakili figur intelektual muda yang tajam dan berani melakukan terobosan manajemen tetapi secara spiritul juga kuat dikenal sebagai Mujiz Dalailul khairat, sementara KH.Asep adalah sosok kiai sepuh yang alim, ahli riyadhah (jalur langit), namun memiliki eksekusi manajerial yang handal melalui Pergunu.

Jadi, pertemuan 25 Januari 2026 di Bina Insan Mulia ini adalah momentum "pulang ke rumah" bagi NU. Selama ini, ada kesan bahwa struktur NU mulai menjauh dari akar rumput pesantren. Duet KH. Imam Jazuli sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah dan Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai calon Rais Aam adalah upaya rekonsiliasi historis untuk mengembalikan marwah NU ke tangan para kiai yang benar-benar mengasuh santri.

Dukungan publik yang terekam dalam polling SukaTV menunjukkan bahwa Nahdliyin menginginkan pemimpin yang "berkarya dulu, baru memimpin", bukan yang "memimpin dulu untuk mencari karya." Duet KH. Imam Jazuli dan Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim adalah jawaban atas teka-teki kepemimpinan NU di era disrupsi.

Pertemuan semalam di Cirebon bukan sekadar seremonial Pergunu, melainkan deklarasi diam-diam tentang kesiapan mereka membawa NU menjemput Indonesia Emas 2045. Jika Muktamar ke-35 menginginkan NU yang mandiri, berkelas dunia, dan tetap teguh pada tradisi pesantren, maka pasangan ini adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan lagi. Melalui pendidikan, mereka membangun peradaban. Melalui kemandirian, mereka menjaga martabat organisasi.***

Penulis, Ketua Pergunu Kabupaten Cirebon

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO