Suasana naik turun penumpang di stasiun kereta api.
BANGSAONLINE.com - BPS Jatim mencatat adanya tren penurunan jumlah penumpang kereta api pada periode Oktober hingga November 2025. Penurunan terjadi di seluruh segmen layanan, baik kelas lokal maupun kelas utama.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan total penumpang pada November 2025 tercatat sebanyak 2.202.700 orang, turun 3,61 persen dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai 2.285.254 penumpang.
“Penurunan ini terjadi merata di semua kelas layanan. Kelas lokal mengalami penurunan paling signifikan, sementara kelas utama relatif lebih stabil,” ujarnya.
Data BPS menunjukkan kelas lokal turun 5,43 persen, dari 1.471.777 penumpang pada Oktober menjadi 1.391.903 penumpang pada November. Sementara kelas utama turun tipis 0,33 persen, dari 813.477 menjadi 810.797 penumpang.
Kendati demikian, Zulkipli menegaskan kelas lokal masih menjadi tulang punggung layanan kereta api di Jawa Timur.
“Kontribusi kelas lokal masih sangat dominan, mencapai 60,2 persen dari total penumpang kereta api. Ini menunjukkan peran penting kereta api lokal sebagai moda transportasi utama masyarakat,” tuturnya.
Dari sisi wilayah operasional, tren penumpang menunjukkan dinamika berbeda antar-Daop. DAOP 9 Jember mencatat pertumbuhan jumlah penumpang secara bulanan, sementara Daop 8 Surabaya dan Daop 7 Madiun mengalami penurunan.
Pada layanan kelas lokal, Daop 9 Jember naik 2,47 persen, sedangkan kelas utama naik 3,43 persen. Sebaliknya, Daop 8 Surabaya turun 5,87 persen dan Daop 7 Madiun turun 8,82 persen untuk kelas lokal.
“Kondisi serupa juga terjadi pada kelas utama, di mana Daop 8 Surabaya turun 1,28 persen, sedangkan Daop 7 Madiun turun 1,80 persen secara month-to-month,” kata Zulkipli.
Secara tahunan (year-on-year), beberapa Daop justru mencatat capaian positif. Daop 7 Madiun mengalami lonjakan signifikan pada layanan kelas lokal dengan kenaikan 125,18 persen.
Sementara Daop 9 Jember mencatat kenaikan tertinggi untuk layanan kelas utama di Jawa Timur, yakni 20,44 persen.
Menurut Zulkipli, perbedaan tren antarwilayah dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola mobilitas masyarakat, kondisi ekonomi regional, hingga karakteristik layanan di masing-masing DAOP.
“Data ini menjadi gambaran penting bagi evaluasi dan perencanaan transportasi ke depan,” pungkasnya. (rom)






