M Mas'ud Adnan (kiri), CEO HARIAN dan BANGSAONLINE dan Prof Usep Abdul Matin di Bi'rur Rauha, 80 KM dari Kota Madinah, Selasa (6/1/2026). Foto: Bangsaonline.
KOTA BADAR, BANGSAONLINE.com - Inilah salah satu rute napak tilas spiritual jemaah umrah yang dipimpin Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA di Madinah.
Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu mengunjungi sejumlah jejek historis Rasulullah saw. Antara lain bi'rur Rauha atau sumur Rauha yang sangat bersejarah.
Apa keistimewaan Bi'rur Rauha? Inilah laporan M. Mas'ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE yang ikut dalam rombongan jemaah umrah Prof Kiai Asep Saifuddin Chalim:
Sumur Rauha terletak di lembah Rauha, sekitar 80 kilometer dari Kota Madinah.
Menurut Kiai Asep, sumur Rauha sangat historis dan masyhur karena sumur tersebut pernah disinggahi Nabi Muhammad dan 70 nabi lainnya.
"Bi'rur Rauha itu airnya enak dan menenangkan," ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim saat membimbing jemaah umrah PT Auva di Madinah, Selasa (4/1/2026).
Jadi, menurut Kiai Asep, bukan hanya Nabi Muhammad, tapi juga nabi-nabi sebelumnya juga pernah datang ke bi'rur Rauha.
Dr KH Mauhibur Rokhman, Rektor Universitas KH Abdul Chalim yang menjadi pembimbing jemaah umrah dan haji PT Auva mengungkapkan bahwa bi'rur Rauha menjadi tempat transit para nabi.
"Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad ketika naik haji juga transit di Bi'rur Rauha ini," ujar Gus Mauhib - panggilan akrab menantu Kiai Asep tersebut kepada BANGSAONLINE.
"Nabi-nabi seperti Nabi Isa dan nabi lainnya juga transit di sini ketika naik haji," tambah Gus Mauhib.

Warga menjual jirigen untuk wadah air Bi'rur Rauha, Selasa (6/1/2026). Foto: Bangsaonline.
Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa Bi'rur Rauha semula tak bisa diminum karena diracuni oleh kafir Quraisy. Tapi Nabi Muhammad kemudian mengambil air sumur tersebut untuk berkumur lalu meludahkannya kembali ke dalam sumur tersebut. Seketika itu air sumur tersebut tawar.
Sumur Rauha menjadi salah satu saksi sejarah Islam yang sangat penting. Sumur inilah yang banyak berjasa bagi para mujahid atau pasukan Islam melawan kafir Quraisy dalam perang Badar. Letak Bi'rur Rauha memang dekat lokasi pertempuran perang Badar.
Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa para pejuang Islam yang kehausan singgah minum air sumur Rauha ketika merekabmenuju medan pertempuran perang Badar.
Pantauan BANGSAONLINE, sumur Rauha semula sempat terlantar. Bahkan saat Kiai Asep dan rombongan umrah tahun sebelumnya Bi'rur Rauha masih berupa sumur tanpa bangunan. Tapi kini pemerintah Madinah mulai memperhatikan sumur penuh historis itu.
Selain ada beberapa bangunan, sumur Rauha sekarang dipagari. Pagarnya terbuat dari besi bercat hitam.
Pembangunannya belum selesai. Saat Kiai Asep dan rombongan berkunjung ke lokasi sumur tersebut ada beberapa tukang yang sedang bekerja.
Bagi umat Islam, sumur Rauha bukan hanya penting tapi juga mengandung magnet spiritual dan penuh barakah. Bahkan bukan hanya mengandung barakah spiritual keagamaan, tapi juga ekonomi.
Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, sekarang banyak orang berjualan berbagai makanan dan produk khas lokal. Termasuk jual jirigen untuk wadah air sumur tersebut. Maklum, kini semakin banyak jemaah umrah dan haji mengunjungi sumur tersebut.
Usai mengunjungi Bi'rul Rauha, Kiaib Asep dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Bi'rur Shifa dan Jabal Malaikat sekaligus ke makam makam para syuhada perang Badar di Kota Badar. Silakan ikuti laporan M. Mas'ud Adnan selanjutnya. (mma)






