Menurutnya, pemeriksaan dilakukan melalui dua metode utama, yakni pemeriksaan dahak dan tuberculin skin test (TST).
“Bagi warga yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, kami lakukan pemeriksaan dahak menggunakan tes cepat molekuler. Sementara bagi yang tidak bergejala, tuberculin skin test digunakan untuk mendeteksi infeksi laten,” ujar Yoni.
Ia menjelaskan, hasil tes diperkirakan keluar dalam waktu dua hari. Bagi warga yang dinyatakan positif, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan foto toraks untuk memastikan kondisi paru-paru.
“Semua biaya pemeriksaan dan pengobatan ditanggung penuh oleh Pemerintah Kota Batu, sehingga warga bisa tenang mengikuti program ini,” sebutnya.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pemeriksaan medis, tetapi juga edukasi untuk mengurangi stigma sosial terhadap penderita TBC.
“Orang dengan TBC tidak boleh dijauhi, melainkan didukung agar mau berobat secara rutin. Setelah terapi berkala, risiko penularan bisa menurun drastis,” ungkapnya. (adi/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




