Kerja Bakti Santri Dibully Perbudakan, di Jepang Justru Ditekankan sejak Usia Dini

Kerja Bakti Santri Dibully Perbudakan, di Jepang Justru Ditekankan sejak Usia Dini Bupati Bojenogoro H. Setyo Wahono. Foto: bangsaonline

“Faktanya Jepang kemudian sangat maju dan menjadi negara modern,” tegasnya.

Sementara Ketua PC Pergunu Bojonegero Ahmad Suprayitno mengaku sangat mendukung kemajuan Pendidikan Bojonegero sehingga bisa bersaing di tingkat global.

“Pergunu Bojonegoro mendukung Pendidikan Bojonegero mau sehingga bisa bersaing di dunia global,” tegasnya saat menyampaikan sambutan di depan sekitar 450 orang peserta itu.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Kamis (30/10/2025), Prof Dr KH Asep Saifuddin Cahlim menegaskan bahwa pemimpin nasional bakal lahir dari Bojonegoro, jika pemerintah Kabupaten Bojonegoro peduli dan memperhatikan pendidikan.

“Kalau Bojonegoro memperhatikan pendidikan, maka pemimpin-pemimpin akan lahir dari Bojenegoro,” tegas Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dalam acara Rembug Pendidikan Bojonegoro yang digelar PC Pergunu Bojonegoro di Pendopo Kabupaten Bojonegoro, Rabu (29/10/2025).

Karena itu Kiai Asep minta Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memperhatikan pendidikan, terutama pondok pesantren. Kiai Asep menyadari bahwa anggaran untuk pensantren dan pendidikan agama sering terbentur payung hukum. Tapi Kiai Asep mengaku pernah mendapat penjelasan dari Kepala Bapedda Pemprov Jawa Timur Muhammad Yasin.

“Kata Kepala Bappeda Pemprov Jatim dana untuk MTs dan pendidikan agama lainnya boleh dalam bentuk hibah seperti halnya TPQ,” kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu.

Selain Kiai Asep juga tampil sebagai pembicara Prof Dr Sri Minarti, Ketua Senat Akademik Unugiri, Dr H Agus Huda, Akademisi yang juga Dewan Penasehat Pergunu dan M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.

Dalam acara Rembug Pendidikan yang dimoderoteri M Hasan Basri itu selain dihadiri H. Setyo Wahono, juga hadir Ketua DPRD Bojonegoro Abdullah Umar, anggota DPRD Jatim Sri Wahyuni dan para kiai pengasuh pondok pesantren.

Tampak pengurus NU, Muslimat NU, Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU dan Pergunu itu, memadati pendopo kabupaten Bojonegero yang luas dan terbuka itu.

Kiai Asep juga mengingatkan bahwa sejarah kelahiran Indonesia tak lepas dari pendidikan, terutama pondok pesantren. Ia memberi contoh peristiwa pertempuran 10 November di Surabaya. Menurut Kiai Asep, dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu kiai dan santri yang berada di garda terdepan. Yaitu Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abbas Abdul Jamil Buntet, Bung Tomo dan KH Muhammad Yusuf Hasyim.

Dalam pertempuan 10 November itu, tegas Kiai Asep, korban meninggal sangat besar, mencapai 30 ribu orang lebih. Mayat-mayat mereka bergelimpangan di Sungai Kalimas Jembatan Merah Surabaya.

Dalam perang itu juga jenderal andalan Inggris Mallaby tewas, setelah diculik oleh santri yang dipimpin Kiai Abbas Abdul Jamil.

“Mereka ditembak oleh tiga santri Tebuireng,” ujar putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.

Karena itu, tegas Kiai Asep, kiai dan santri sekarang harus mengisi kemerdekaan Indonesia.

“Untuk mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan, pesantren harus melakukan transformasi sesuai kebutuhan masyarakat sekarang,” kata Kiai Asep yang pada Agustus lalu mendapat penghargaan Maha Putra Nararya dari Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta.

“Jadi, karena kiai dan santri yang memerdekaan bangsa, maka kiai dan santri yang harus mengisi kemerdekaan bangsa,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO