DARI KANAN: Prof Dr Sri Minarti, M. Mas'ud Adnan, M.Si, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, Dr H Agus Huda dan M Hasan Basri. Foto: bangsaonline
“Pertama, menguasai kompetensi dan selalu memperbaiki kompetensinya,” tegas Kiai Asep.
Kedua, tutur Kiai Asep, guru yang bertanggungjawab. Maksudnya, guru dalam menstranfer ilmunya sampai semua murid mengerti.
“Al’ilmu huwal fahmu, ilmu itu mengerti. Guru tak boleh berhenti menjelaskan sebelum muridnya mengerti,” katanya.
Begitu juga murid tak boleh berhenti bertanya sebelum mengerti apa yang disampaikan guru.
“Tapi kalau sudah mengerti tak boleh bertanya lagi,” kata Kiai Asep.
Ketiga, guru menjadi teladan moral di depan muridnya. Menurut Kiai Asep, seorang guru tak boleh menyukai muridnya.
Keempat, guru yang memandang muridnya sebagai anak kandung sendiri.
“Karena Nabi menganggap para sahabat seperti anak kandung sendiri,” kata Kiai Asep mengutip sebuah Hadits.
Kelima, guru yang mendoakan muridnya.
Sementara Bupati Setyo Wahono mengucapkan terima kasih kepada Pergunu karena telah menggelar acara Rembug Pendidikan di Pendopo Kabupaten. Adik Profesor Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia itu mengaku sangat senang karena dirawuhi Kiai Asep.
Dalam sambutannya Bupati Setyo Wahono banyak menyinggung soal adab dan karakter dalam pendidikan. Menurut dia, adab dan karakter sangat penting dalam pendidikan.
“Kecerdasan itu penting tapi adab dan karakter lebih penting,” katanya.
Ketua PC Pergnu Ahmad Suprayitno juga mengucapkan terimakasih kepada para tokoh dan kiai, terutama kepada Kiai Asep. Ia mengaku sangat mendukung pendidikan Bojonegoro menuju daya saing global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




