Tema yang diangkat menyoroti pentingnya sikap kritis dalam menerima informasi, merujuk pada nasib tokoh Sidopekso yang terjebak oleh kabar menyesatkan. Pesan ini menjadi relevan di era keterbukaan informasi dan media sosial.
Kekuatan artistik pertunjukan terletak pada perpaduan musik gamelan dengan instrumen modern, menciptakan atmosfer musikal baru yang tetap berakar pada tradisi.
Gerak tari memperkuat suasana dramatik, menggambarkan dinamika batin tokoh dan lanskap emosional cerita. Nyanyian dan pembacaan puisi turut memperdalam makna dramatik serta memberi ruang bagi ekspresi puitik khas Sastra Indonesia.
Dengan konsep kolosal yang menggabungkan unsur musik, gerak, puisi, dan dramaturgi, Mewangi dalam Luka Sri Tanjung Asmaraloka menjadi refleksi kreatif tentang bagaimana tradisi dapat diolah menjadi medium pembelajaran, hiburan, dan perenungan bagi generasi masa kini.
Sementara itu, Dekan Fakultas Sastra UM, Moch. Syahri, turut memberikan apresiasi terhadap pementasan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mewadahi mahasiswa dalam melestarikan budaya bangsa. (asa/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




