Direktur LSM Pusaka, Lujeng Sudarto.
"Kerusuhan dalam sepak bola tidak selamanya berkonotasi negatif. Justru kerusuhan adalah tanda bahwa adanya kehidupan di dalam sepak bola itu sendiri," tuturnya.
Ia menyebut fanatisme suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari atmosfer pertandingan, meski kadang memicu konflik.
"Saking cintanya sama klub, ada suporter lawan sindir dikit langsung panas merasa harga dirinya ikut terinjak juga," ucapnya.
Lujeng membandingkan kondisi ini dengan negara-negara maju yang juga mengalami kerusuhan suporter, seperti Inggris, Italia, Jerman, Brasil, dan Argentina. Namun, ia menyayangkan bahwa di Indonesia, kerusuhan tidak diimbangi dengan prestasi.
"Indonesia dapat rusuhnya saja tapi nggak diikuti sama prestasinya," katanya.
Meski memahami latar belakang kerusuhan, ia menegaskan tidak mendukung tindakan tersebut.
"Tapi di sini tidak ada maksud saya untuk mendukung kerusuhan suporter," pungkasnya. (afa/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




