Ketua Kelompok Petani Tembakau Kotaanyar, Danang. foto: andi/BANGSAONLINE
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com - Meski sudah ada Sosialisasi dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) terkait area tanam Tembakau dan Quota 4 Gudang besar di Kabupaten Probolinggo waktu lalu, namun hal tersebut tak memberikan jaminan jika hasil panen tembakau petani mahal.
Justru sebaliknya, petani tembakau kian tercekik akibat dugaan permainan harga dari beberapa mafia tembakau yang ada di Kabupaten Probolinggo. Ironisnya lagi, adanya 4 gudang tembakau yakni PT. Gudang Garam, PT. Sadana atau Sampoerna, PT. Bentoel dan PT. Djarum menambah perih para petani. Sebab, belum usai penen, justru ke empat Gudang tersebut sudah tutup.
BACA JUGA:
- Petani Tembakau Rasakan Manfaat Berdirinya Pabrik Rokok Lokal di Sumenep
- Paguyuban Petani Tembakau se-Madura Siap Menangkan Khofifah-Emil dengan Suara 90 Persen
- Ratusan Kelompok Tani Tembakau di Blitar Dapat Bantuan Alat Senilai Rp2 Miliar dari DBHCHT
- Tolak RPP Kesehatan, Ratusan Petani Tembakau di Pamekasan Tanda Tangani Petisi
Kuat dugaan, jika tutupnya 4 gudang itu ditengarai akibat masuknya tembakau dari luar daerah. Sehingga, semuanya jatah Quota sudah terisi semua. Lebih-lebih, Gudang Garam yang notabene gudang terbesar di Probolinggo tutup. Akibatnya, harga tembakau petani yang semestinya mahal, langsung anjlok.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




