Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah.
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Krisis BBM yang melanda Jember dinilai sebagai pelajaran penting dalam membangun sistem antisipasi dan penanganan masalah secara kolektif.
Hal tersebut disampaikan oleh Ciplis Gema Qoriah, seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, yang menekankan perlunya keterlibatan lintas lembaga dalam menghadapi situasi serupa di masa depan.
BACA JUGA:
- Gus Fawait Raih Penghargaan di HPN 2026
- RSD dr Soebandi Jadi RS Pendidikan Dokter Spesialis, Gus Fawait: Layanan Setara di Surabaya
- Hapus Denda Pajak hingga 30 Juni 2026, Gus Fawait: Warga Tetap Wajib Bayar Pokok Pajak
- Targetkan Renovasi 1.000 RTLH pada 2026, Gus Fawait Galakkan Program Pengentasan Kemiskinan
"Peristiwa ini harus dijadikan pembelajaran bersama agar ke depan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu institusi saja. Semua pihak yang berkepentingan harus ikut terlibat aktif," ucapnya, Kamis (31/7/2025).
Ia menyoroti pentingnya koordinasi intensif sebelum pemerintah mengambil kebijakan besar seperti penutupan jalur Gumitir, yang berdampak langsung pada distribusi energi.
Menurut dia, Pemprov Jatim, Kementerian PUPR, Pertamina, dan PT ASDP Indonesia Ferry harus bersinergi dalam penanganan krisis.
"Kebijakan semestinya diuji lewat simulasi terlebih dahulu, sehingga kita tahu siapa yang harus bergerak dan bagaimana cara menghadapinya ketika situasi serupa terjadi," imbuhnya.
Kendati demikian, Ciplis mengapresiasi respons cepat Pertamina, dan mengusulkan agar kereta api dimanfaatkan sebagai jalur alternatif distribusi BBM, mengingat adanya depo BBM di Gebang, Jember yang terhubung dengan jalur rel.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




