Tangkapan layar video saat aliansi mahasiswa Papua meminta acara dibubarkan
Sekelompok orang tersebut merasa, orang-orang yang menggelar acara ini tidak pernah ada untuk mereka. Sebab, mereka mengaku selama ini mahasiswa Papua mendapat teror tetapi tak pernah mendapat bantuan.
"Kami juga mahasiswa ini (mendapat) diskriminasi tapi alumni -alumni itu kemana, sebagai orang Papua kemana selama ini," tambah orang itu.
Selama kerusuhan terjadi aparat kepolisian Polres Tanjung Perak, TNI hingga Satpol PP pun datang. Mereka mencoba untuk meredam kegaduhan yang terjadi. Tapi, tidak ada titik temu.
Setelah dialog, tiba-tiba sekelompok orang itu pun berlarian ke arah kursi penonton. Kursi-kursi diporak-porandakan.
Seketika, para penonton dan tamu undangan yang hadir histeris. Mereka pun berlarian ke sana kemari. Bahkan, anak-anak yang hadir juga menangis. Ada pula penonton yang pingsan.
Sebelum kerusuhan di lokasi Kya-kya, Freek Cristiaan selaku Pengurus Alumni Papua Jawa Timur, sempat mengatakan bahwa acara ini merupakan pentas seni dan budaya. Kegiatan tersebut ingin memperkenalkan budaya Papua ke Masyarakat Surabaya.
"Artinya kita dari masyarakat Papua ingin memperkenalkan budaya tari tarian kita kepada seluruh keluarga besar Jawa Timur khususnya yang ada di Kota Surabaya dan seluruh suku-suku yang ada kami undang untuk mengikuti acara," ujarnya.
Hingga pukul 20.00 WIB, pihak terkait masig l berdialog. Suasana Kya-kya Surabaya masih tegang. Walaupun lampu di area panggung dan pentas sudah diredupkan.
Hingga pasca kerusuhan terjadi pihak Polres Pelabuhan Tanjung perak belum bisa memberikan keterangan resmi terkiat kelanjutan penanganan kerusuhan tersbeut.(rus/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




