Dr (HC) KH Afifuddin Muhajir. Foto: Ist.
Yang artinya, ”Orang² yang lebih dulu bertempat tinggal di kota Madinah (Anshar) dan telah menemukan manisnya iman sangat mencintai orang-orang yang bermigrasi kepada mereka (Muhajirin), dan hati mereka bersih dari rasa iri terhadap anugerah khusus yang diberikan (Nabi) kepada Muhajirin dan (bahkan) mereka lebih mengutamakan orang lain yakni Muhajirin daripada diri sendiri, meski sebetulnya mereka juga memiliki kebutuhan.”
Menurut Kiai Afif, seharusnya umat Islam di Indonesia meneladani perilaku para Shahabat Rasulullah itu. Bukan malah bentrok sesama umat Islam.
Sebelumnya, Kiai Afif mengatakan bahwa ulama selaku penguasa kultural dan pemerintah selaku penguasa struktural punya tanggung jawab terhadap kasus tersebut.
“Tapi tanggung jawab paling besar tetap di tangan negara. Harus turun tangan,” kata Kiai Afif.
Ulama yang dikenal low profile itu mengingatkan bahwa konflik yang menimpa para aktivis PWI-LS vs FPI itu sudah menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. Kiai Afif bahkan mengategorikan mereka sebagai ashabiyyah thabi’iyah, yaitu cinta berlebihan terhadap dirinya dan terlalu benci secara berlebihan kepada kelompok lain.
“Akhirnya bentrok seperti itu, padahal Nabi gak seperti itu,” ujarnya.
Menurut Kiai Afif, mereka sudah keterlaluan. “Menganggap kelompoknya sendiri suci dan menganggap kelompok lain najis,” kata Kiai Afif.
Ia mengajak kedua belah pihak menggunakan akal sehat dalam beramal. Tidak membabi buta atau fanatik buta. Menurut dia, cara paling sederhana untuk bermanfaat bagi agama yang kita peluk adalah tidak berprilaku merugikan agama seperti kasus PWI-LS dan FPI itu.
“Apakah mereka memang bodoh sehingga tidak tahu siapa saudara dan siapa musuh sesungguhnya, atau mereka pura-pura bodoh atau buta tuli sehingga tidak tahu dan tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah,” kata Kiai Afif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




