KH Muhammad Yusuf Hasyim. Foto: Dok. Pesantren Tebuireng
“Pak Ud juga menyelamatkan kiai dan tokoh-tokoh Ponorogo, termasuk Pondok Gontor dan para kiai serta santrinya dari kepungan tentara PKI sehingga tokoh-tokoh Ponorogo dan sekitarnya seperti Megetan selamat dari serangan tentara PKI,” kata Prof Usep sembari mengatakan bahwa Kiai Yusuf Hasyim menyelamatkan kawasan itu bersama kakaknya dari Pesantren Tebuireng, KH Abdul Kholiq serta pasukan Laskar Hizbullah.

Prof Usep Abdul Matin, MA (Leiden), MA (Duke), Ph.D. Foto: MMA/bangsaonline
Jadi di 5 kabupaten yang menjadi jejak perjuangan Kiai Yusuf Hasyim itulah yang perlu ada jalan yang mengabadikan nama KH M Yusuf Hasyim. Prof Usep menunjuk salah contoh wilayah yang perlu diberi nama Jalan KH M Yusuf Hasyim adalah Kesamben yang terletak antara Kabupaten Jombang dan Kabupaten Mojokerto.
Menurut Prof Usep, semula Kesamben masuk dalam garis van Mook (daerah kekuasaan Hindia Belanda). “Pada tahun 1947, usia ke-17 atau ke-18 tahun, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim berhasil merebut Kesamben dari kekuasaan van Mook (Pemerintah Hindia Belanda). Sebelum tahun 1947, Kesamben masih merupakan daerah Mojokerto (masuk van Mook),” kata Prof Usep.
Bahkan, tutur Prof Usep, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim menerima langsung peralihan kekuasaan Kesamben menjadi bagian dari Jombang. Di Kesamben itu juga ada saksi sejarah berupa rumah berarsitektur Belanda yang pernah menjadi markas Laskar Hizbullah.
“Kini, tempat di mana KH M Yusuf Hasyim menerima peralihan penguasan wilayah Kesamben itu, menjadi “rumah sejarah di Kesamben”,” tegas Prof Usep.
Menurut Prof Usep, Kiai Yusuf Hasyim akhirnya bisa mempertahankan Jombang sehingga garis van Mook tidak meluas ke Jombang. Capaian ini, kata Prof Usep, telah membuka jalan bagi Kolonel Infantri Soengkono, Komandan Divisi I Brawijaya 1948-1950 dan pasukan militernya di Jawa Timur, untuk menggunakan Jombang, tepatnya Dusun Banjaranyar, Desa Sumber Agung, Peterongan, sebagai zona aman di masa gencatan senjata di November 1949.
“Zona aman ini membantu Divisi I Brawijaya untuk melakukan konsolidasi, membentuk formasi bataliyon yang baru dan melakukan pemeriksaan kesehatan untuk para pasukan,” kata Prof Usep. (M.Mas’ud Adnan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




