Ketua Tan Malaka Institut Jawa Timur, Imam Mubarok (kiri) saat memimpin doa dan tahlil di area makam Tan Malaka. (Ist).
Ia menekankan pentingnya dialektika sebagai alat untuk memahami perubahan sejarah dan perjuangan kelas
Sehingga rakyat dapat terbebas dari belenggu irasionalitas menuju kesadaran revolusioner yang lebih terarah.
"Pemikiran Tan Malaka tetap relevan hingga saat ini. Kita masih menghadapi tantangan besar seperti maraknya disinformasi, budaya politik pragmatis yang mengabaikan idealisme, serta ketimpangan sosial yang semakin tajam,"ujar Gus Barok.
Menurutnya, warisan intelektual Tan Malaka seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengasah daya kritis serta membangun gerakan berbasis ilmu pengetahuan dan keadilan sosial.
Tan Malaka mengajarkan bahwa berpikir mandiri, kritis, dan berani melawan ketidakadilan adalah kunci utama menuju bangsa yang lebih maju dan beradab.
"Haul ini bukan hanya momen penghormatan, tetapi juga ajakan untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan Tan Malaka. Kita harus belajar dari pemikirannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Dengan peringatan haul ini, lanjut dia , diharapkan pemikiran dan perjuangan Tan Malaka tidak hanya dikenang, tetapi juga terus menjadi inspirasi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju, adil, dan berkeadaban.
Sedangkan M. Fahru Rizal Sauqi, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah dari Universitas Nusantara PGRI Kediri, mengungkapkan apresiasinya terhadap acara ini.
Dia mengaku telah dua kali mengikuti peringatan haul di Selopanggung dan merasa bahwa momen ini memberikan semangat baru bagi anak muda untuk terus berbakti kepada bangsa tanpa melupakan sejarah. (uji/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




