M. Mas'ud Adnan. Foto: bangsaonline
Salah satu syair karya Abu Nawas yang sangat disukai Gus Dur adalah bait syair Al I'tiraf. Syair ini mengandung ketawadlu’an sekaligus kecerdikan sufistik luar biasa. Saya kira semua orang pesantren sudah hafal syair cerdas ini:
إِلٰـهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً- وَلاَ أَقْوٰى عَلَى نَارِ الْجَحِيْم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi
فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي - فَإنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil 'azhiimi
Artinya:
Tuhanku, aku tidak layak memasuki surga Firdaus
Tapi aku tak mampu menahan siksa api neraka
Sehingga, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar
Nah, Gus Dur sangat menyukai syair karya Abu Nawas itu. Sedemikian sukanya sampai Gus Dur selalu melantunkan syair tersebut. Baik pada masa senggang – seperti dalam mobil – maupun saat ceramah di depan publik.
Tentu masih banyak faktor lain kenapa Gus Dur suka humor. Tapi menurut saya Gus Dur bukan hanya suka humor tapi juga produktif memproduksi humor atau anekdot. Dan itu – sekali lagi – karena Gus Dur memiliki daya ingat luar biasa.
Faktanya kita sendiri sering mendengarkan humor, anekdot, lelucon, tapi gampang lupa. Bahkan hanya dalam hitungan jam kita sudah lupa. Kalau toh ingat kita juga tak bisa menirukan narasi secara persis sehingga kelucuannya pun hilang. Atau berkurang.
Gus Dur sebaliknya. Selain cerdas dan punya ingatan kuat juga bisa mengkreasi humor. Tak aneh, jika Gus Dur sangat produktif melahirkan humor atau anekdot.
Meski demikian Gus Dur tetap kalah dengan orang Madura. Tak percaya? Silakan baca buku saya berjudul: Anekdot-Anekdot Cerdas KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur Hanya Kalah dengan Orang Madura.
M. Mas’ud Adnan, alumnus Pesantren Tebuireng dan Pascasarjana Unair, kini CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE serta penulis sejumlah buku NU dan Gus Dur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




