“Indonesia memiliki banyak ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu bahkan diakui oleh dunia global. Sayang sekali jika tidak digaungkan kembali. Jadi ini semacam dakwah yang ingin kita lakukan bersama, untuk syiar dalam tujuan kebaikan bersama, membangun persatuan dan persaudaraan yang makin kokoh,” ujarnya.
Senada dengan semangat itu, lima tahun belakangan, Khofifah juga telah melakukan upaya untuk mengumpulkan manuskrip kuno atau biasa disebut turots karya ulama Indonesia dari berbagai daerah. Selama lima tahun itu, telah berhasil terkumpul sebanyak 400 turots yang kemudian berhasil dituliskan kembali.
“Dari 400 turots yang sudah kita tulis kembali itu ada sebanyak 200 yang sudah kita digitalkan. Dan dari itu. ada 48 turots yang sudah kita ikhtisarkan dalam dua kitab,” tandas Khofifah.
Dua kitab itu telah didisplay di area Cultural Palace Diplomatic Quarter Riyadh Saudi Arabia. Selain itu juga telah disampaikan pada tokoh-tokoh ulama dunia termasuk Grand Syekh Al Azhar Kairo Mesir.
“Bahwa kedalaman ilmuwan ulama nusantara kita sangat luar biasa. Termasuk almaghfurllah KHM. Hasyim Asy'ari . Bedah buku semacam ini bisa kita jadikan kebiasaan dalam kegiatan NU waala alihi.
“Karena buku ini kaya akan nilai dakwah tentang gimana pentingnya membangun ukhuwah diantara kita semua, diantara kemajemukan dan keberagaman,” pungkas Khofifah. (dev/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




