Dr Muhammad Al Barraa dan dr Muhammad Rizal Octavian. Foto: istimewa
Memang tak semua orang bisa mencermati totalitas aktivitas politik Kiai Asep, sehingga meragukan Gus Barra-dr Rizal bakal menang. Padahal Gus Barra atau Kiai Asep memiliki 24.000 lebih tim relawan yang secara srtuktural memiliki Koordinator Kecamatan (Korcam) dan Koordinator Desa (Kordes).
Tim relawan itu meluas sampai tingkat RT. Karena itu dinamakan Baret (Barisan RT) dan Bekisar (Bela Kiai dan Santri). Tim itu dikomandani Khoirul Amin yang kini wakil ketua DPRD Mojokerto. Abah Amin – panggilan Khoirul Amin diback up Dhofir, Ainul Yaqin, dan lainnya.
Kinerja Baret dan Bekisar itu dimonitor dan disupervisi Dr Affan, Wakil Rektor Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Pacet Mojokerto.
“Mereka kerja keras dan militan,” tutur Kiai Asep yang tak lain pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto.
Tim Baret dan Bekisar itu rutin dikumpulkan secara bergelombang. Untuk konsolidasi. Sejak tiga tahun lalu. Kadang sebulan sekali.
Tentu biayanya sangat besar. “Sekali mengumpulkan menghabiskan dana Rp4 miliar sampai Rp5 miliar,” kata Kiai Asep. Memang, setiap konsolidasi mereka diberi uang transport, sarung dan kadang beras.
Mereka membuka posko di tiap desa. Tiap posko diberi kacang sangrai satu karung dan uang ngopi. Otomatis biayanya luar biasa besar.
Faktor finansial inilah yang sulit ditandingi. Hebatnya lagi, Kiai Asep tak pernah berpikir dana miliaran itu kembali.
“Karena saya niati untuk sedekah,” jelas putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU dan pejuang kemerdekaan RI yang pada 2023 ditetapkan sebagai pahlawan nasional itu.
“Saya mengibaratkan buang kotoran di pagi hari. Masak kotoran dari perut yang sudah saya keluarkan saya ambil lagi,” kata Kiai Asep yang selama kampanye selalu didampingi istri tercintanya, Nyai Hj Alif Fadhilah.
Kiai Asep juga tak pernah berharap proyek dari Pemkab Mojokerto. Ia bahkan mengharamkan fee proyek dan jual beli jabatan.
Begitu juga Gus Barra. Ia berjanji tak akan jual beli jabatan. “Tak ada mahar-maharan,” kata Gus Barra saat debat terbuka.
Salah satu program utama Gus Bara, memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto. Kini pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto berada di Kota Mojokerto. Menurut Gus Bara, ini sama dengan kost.
Kiai Asep memproyeksikan Majokerto sebagai miniatur kabupaten percontohan. “Yaitu kabupaten yang maju, adil, dan makmur,” katanya.
Ia punya obsesi besar Mojokerto seperti Kota Rabat, Ibu Kota Maroko. “Bersih, indah, dan tak ada sampah,” kata Kiai Asep yang pernah beberapa hari berkunjung ke Maroko.
Malik Effendi, mantan anggota DPRD Jatim, mengaku kagum terhadap perjuangan Kiai Asep dalam memenangkan Gus Barra.
“Saya pernah menangani 9 pilkada, tapi belum pernah menyaksikan relawan sampai ribuan seperti ini,” kata politikus asal Madura itu di sela-sela memberi pengarahan pada relawan dan saksi Gus Barra-dr Rizal.
Achmad Rubaie juga mengaku heran, terutama totalitas Kiai Asep. “Siang malam beliau tak pernah berhenti. Kalau saya gak kuat bos,” kata Ketua Pencak Silat Tapak Suci dan mantan anggota DPR RI itu seusai memberikan pengarahan pada ribuan saksi Gus Barra-dr Rizal.
“Doa-doanya juga dahsyat. Saya selalu menyimak dan mengamini,” kata Achmad Rubaie yang dalam pengarahannya selalu mengalunkan shalawat bersama-sama ribuan relawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




