Perajin ikan lele asap saat mendapatkan pelatihan dari PHE TEJ Tuban.
Apalagi lele asap merupakan produk khas Desa Bulurejo yang digeluti hampir 10 perajin.
"Namun sampai saat ini perajin mengaku produknya kurang tahan lama dan hanya laku dijual di pasar desa sekitar," tutur Cahyo sapaan akrabnya.
Kemudian, selama pelatihan peserta mendapatkan materi dan pengalaman langsung. Termasuk melalui praktek tentang pengemasan produk dan pemasaran digital yang diajarkan langsung oleh Devi Anggita Lela.
"Beliau (Devi) ini seorang perajin ikan asap asal Sidoarjo yang berhasil menaikkan "kelas" produknya. Pastinya melalui inovasi kemasan yang menjadikan produk lebih tahan lama dan dapat dipasarkan luas melalui media sosial," imbuhnya.
Disisi lain, untuk lele asap ini sebenarnya perlu adanya peningkatan kualitas produk. Terlebih, kemasan yang lebih modern serta pemasaran offline dan online yang melibatkan generasi muda.
"Maka pada kesempatan ini, karang taruna sengaja kita libatkan, harapannya agar muncul kolaborasi dan inovasi antara ibu-ibu perajin dan anak muda, utamanya pada aspek pemasaran digital atau media sosial," harapnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Bulurejo, Umi Masfuah mengapresiasi atas kepedulian PHE TEJ memberikan pelatihan kepada para perajin lele asap di desanya. Diharapkan, pelatihan ini menjadi awal yang baik dan ikan lele asap menjadi produk unggulan.
"Ya pastinya ingin dikenal luas, dan menjadi sumber pendapatan keluarga," pungkasnya.
Diketahui, para peserta tak hanya menerima materi dan pelatihan serta praktek. Akan tetapi, mereka juga diberikan alat penunjang pengemasan lele asap dari PHE TEJ untuk kelompok perajin lele asap ‘Guyub Sejahtera’ di Desa Bulurejo. Bantuan itu berupa 10 unit mesin vakum, beserta dengan plastik vakum dan kardus kemasan. (gun/sis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




