Sekjen DPP PDIP Hasto Kristianto menunjukkan KTA PDIP milik Tri Rismaharini. Tampak disampingnya Whisnu Sakti Buana. (maulana/BANGSAONLINE)
Alumnus FTSP ITS Surabaya ini mengatakan, beberapa parpol yang sudah merapat ke PDIP antara lain PAN, Hanura, dan PPP, sedangkan Nasdem sudah sepakat berkoalisi di tingkat DPP. “PAN, Hanura, PPP dan PKB sudah komunikasi dengan kita,” katanya.
Ia mengakui, ada tengarai menggagalkan pilkada Surabaya, dengan tidak mengusung pasangan calon. Sehingga, dalam pilkada Surabaya ini hanya ada satu pasangan calon dari PDIP.
Whisnu mengaku untuk mengantisipasi itu, pihaknya melakukan terobosan hukum diantaranya dengan melakukan uji materi ke Mahkamah konstitusi (MK). “Terobosan hukum salah satunya itu yang kita lakukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, aksi boikot merupakan pendidikan politik yang tidak bagus bagi masyarakat. Namun, pria yang akrab disapa WS ini menegaskan, situasi politik yang dihadapi di Surabaya juga berlangsung di daerah lainnya. “Di daerah lain juga mengalami kebuntuan,” tandasnya.
Di sisi lain, Koalisi Majapahit yang terdiri dari gabungan enam parpol besar nampaknya mulai goyah sebelum menentukan calon yang akan diusung dalam Pilwali Surabaya 2015. Salah satu parpol yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) nampaknya akan merapat ke PDIP yang notabene sebagai calon lawan bersama.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi PAN, M Arsyad mengatakan sampai saat ini partainya belum membahas sama sekali terkait persiapan Pilwali Surabaya 2015. Lebih lanjut, Arsyad menyebut sampai saat ini belum ada keputusan apakah partainya terus bersama dengan Koalisi Majapahit.
"Sampai sekarang belum ada rapat partai yang menyangkut Pilwali. Artinya PAN belum tentu bersama Koalisi Majapahit," kata Wakil Sekretaris DPD PAN Surabaya ini. (lan/dur)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




