Acara Silaturahim Nasional JATMAN di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok Jawa Barat. Tampak Mudir Am Jatman, KH Abdul Mu’thy Nurhadi (paling kiri) dan Rais Am JATMAN Habib Lufi bin Ali bin Yahya (paling kanan). (foto: BANGSAONLINE)
Selain mereka, kata Kiai Abdul Mu’thy, juga hadir para Idarah Aliyah (pengurus pusat Jatman) dan para masayikh. ”Para masayikh ini merupakan para muhibbin (pecinta thoriqoh-red),” kata Kiai Abdul Mu’thy lagi.
Rais Am Jatman KH Habib M Luthfy Ali bin Yahya memberi taushiyah dalam acara tersebut. Ia menjelaskan kenapa acara penting para kiai dan ulama ini ditempatkan di Pesantren Al Hikam yang diasuh Kiai Hasyim Muzadi. ”Karena Kiai Hasyim selama ini tokoh NU paling peduli terhadap thoriqoh,” katanya memberi alasan.
”Kiai Hasyim Muzadi yang selalu bisa diajak bicara kalau masalah Thoriqoh,” tambahnya. Menurut dia, tak semua tokoh NU peduli terhadap thoriqoh. Padahal thoriqoh ini adalah bagian dari ruh dan jati diri NU, terutama dalam masalah spiritual keagamaan.
Dalam catatan BANGSAONLINE.com, Kiai Hasyim Muzadi adalah tokoh NU yang memelopori istighatsah saat jadi Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur. Awalnya PWNU Jatim menggelar istighatsah di alun-alun Sidoarjo. Massa membludak dan jadi wacana nasional yang kontroversial. Banyak tokoh agama di luar NU saat itu mempertanyakan kesahihan dalil istighatsah. Namun Kiai Hasyim Muzadi yang saat itu didukung penuh Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terus menyososialisasikan istighatsah. ”Istighatsah harus dilakukan di semua cabang dan ranting NU,” kata Kiai Hasyim memberikan instruksi saat itu.
PWNU Jatim pimpinan Kiai Hasyim Muzadi kemudian menggelar istighatsah lagi di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari Surabaya. Saat itu Gus Dur hadir bersama jajaran PBNU. Semua kiai dan warga NU yang hadir diinstruksikan memakai pakaian putih-putih. Hampir 100 ribu warga NU memenuhi stadion terbesar di Jawa Timur itu. Bahkan bumi seolah berguncang saat gemuruh istighatsah itu menggema.
Baik Gus Dur, Kiai Hasyim maupun para kiai serta warga NU sesenggukan nangis sambil mengalunkan asma Allah. Panggung besar yang disediakan untuk Gus Dur dan para masayikh bajir air mata. Acara spiritual keagamaan massal dan terbesar ini seolah menjadi mementum spiritual untuk perbaikan negeri Indonesia yang saat itu dipimpin Soeharto yang dianggap diktator. Media massa memberitakan besar-besaran acara doa bersama ini disertai foto para jemaah NU yang menyemut.
Sejak itu istighatsah lalu populer dan jadi tradisi dan budaya nasional. Bahkan istighatsah tidak hanya digelar NU struktural tapi digelar NU kultural di kantor-kantor dan di hotel berbintang, disamping acara-acara keagamaan lain. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




