Kapal yang mengangkut ratusan imigran rohingya. (foto: capebanget)
"Di kapal itu tak ada nahkoda, salah satu dari kami yang pernah jadi nelayan hanya disuruh mengarahkan kapal ke arah 220 ke timur," jelas Amin penuh emosi.
Ternyata, di kapal besar itu juga sudah ada sekitar 300 imigran asal Bangladesh. Imigran asal Bangladesh itu bertujuan ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Akhirnya, satu kapal diisi 1200 orang.
Persediaan makanan di kapal itu sangat sedikit, sehingga para imigran hanya makan sehari sekali. Merekapun hanya makan bubur agar beras bisa bertahan lebih lama.
Konflik mulai datang ketika persediaan makanan mulai menipis, perkelahian untuk berebut makanan tak bisa dihindarkan. Dua kelompok Rohingya, Myanmar dan Bangladesh harus berkelahi untuk memperebutkan makanan.
Tak sedikit dari mereka yang mati akibat perkelahian memperebutkan makanan. Mayat imigran yang mati langsung dibuang ke laut.
Memasuki bulan ketiga, bahan bakar kapal habis, sehingga mereka hanya mengandalkan arus laut agar kapal bisa berjalan. Kain terpal yang ada di kapal dibuat menjadi layar sekedarnya. Mereka terkatung-katung di laut.
Imigran lain yang kebetulan bisa berbahasa Inggris, Nuzumul (25) menceritakan bagaiman cara mereka bertahan hidup. Di bulan ketiga, persediaan makan sudah habis, bahkan air minum pun tidak ada.
"Kami harus mengumpulkan air hujan untuk diminum, makanan sudah tidak ada sama sekali. Jadi kami hanya makan sisa-sisa yang ada. Tentu saja harus berebutan dan berkelahi," kata Nuzumul dengan Bahasa Inggris yang sangat sederhana.
Akhirnya, seorang nelayan Aceh Timur menemukan mereka. Saat ditemukan, para imigran yang berada di atas kapal dalam keadaan terlentang tanpa tenaga, tubuh mereka sangat kurus dan keadaan kapal yang rusak parah.
Kini, mereka sudah ditampung sementara di Aceh Timur. Namun, imigran Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh dipisahkan tempat penampungannya karena rawan perkelahian. (det/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




