Ilustrasi: bendera Nahdlatul Ulama (NU)
“Mitra negara kita ini, khususnya tetangga-tetangga terdekat, banyak negara yang mayoritas nonmuslim. Kalau tipikal masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini didominasi kelompok radikal, eksklusif dan intoleran, kita bisa diperangi,” tandasnya seraya mengungkap sejumlah data yang menunjukkan kehadiran angkatan militer di sejumlah pulau dan laut terdekat dengan Indonesia.
Hal itu diamini Mahmud Syaltout, yang konsetrasi dalam bidang kajian Eropa di UI. Syaltout mengungkap sejumlah fakta kerja sama Indonesia dengan sejumlah negara yang berhasil setelah melibatkan rekomendasi NU
“Pertamina ketika melobi Al-Geria untuk membuka investasi minyak, sampai harus mengklaim diri NU. We are Nahdliyin. Karena memang karakter masyarakat dan pemerintahan di sana dekat dengan NU. Akhirnya Pertamina dapat dua sumur minyak di sana. Begitu juga kerja sama dengan Libya, kita meminta rekomendasi PBNU, baru berjalan sukses,” paparnya.
Fenomena serupa juga terjadi saat pemerintah Indonesia hendak menjalin kerja sama dengan Negara-negara Eropa, Amerika dan lainnya. Mereka melihat mayoritas penduduk Indonesia ini muslim dan secara faktual mampu menerapkan demokrasi secara damai. Tidak seperti di Negara-negara muslim lain, seperti di Timur Tengah, yang hancur lebur oleh konflik internal. Kebhinekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai adat, suku, bangsa dan agama, yang secara karakter berbeda namun bisa bersatu berkat toleransi yang dibangun kiai-kiai NU, menjadi nilai tersendiri di mata negara lain.
“Karena itu, NU harus banyak kadernya ke berbagai negara mitra. Jalinlah kerja sama dengan negara-negara di Eropa, Amerika, China, Jepang, Perancis, hingga Singapura dan Malaysia. Bangun kerja sama beasiswa khusus untuk kader-kader muda NU misalnya. Ini penting, karena Indonesia butuh banyak diplomat berkarakter NU,” imbuhnya. (nuo)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




